Penyerobotan Tanah Marak di Desa Iyok Nuangan, Warga Minta Kapolres Boltim Tindak Tegas

oleh

InvestigasiMabes.Com |Boltim — Mafia tanah diduga melakukan dengan kepala desa Iyok Nuangan untuk melakukan aksi penyerobotan lahan milik warga, perangkat desa melakukan tindakan memanipulasi surat kepemilikan tanah (skpt) dengan nama orang lain. di Desa iyok, Kecamatan Nuangan, Boltim. Senin, (26/02/2022).

Melalui penelusuran awak media, para oknum mafia tanah bekerjasama dengan kepala desa Iyok, untuk melakukan pemalsuan dokumen, melakukan penyerobotan lahan, mengambil hak tanah milik orang lain yang belum memiliki sertifikat tanah induk.

Praktek busuk tersebut dilakukan dengan dugaan perangkat desa Iyok dijanjikan nominal uang sebesar 20juta. (Dua Puluh Juta rupiah) dengan menerbitkan surat kepemilikan tanah dari perangkat desa yang di tanda tangani oleh kepala desa.

(IS) selaku pemilik tanah kebun saat ditemui awak media menjelaskan bahwa tanah kebun seluas 1,5 hektar sebelumnya milik bapak gusni mamentu, (IS) membelinya pada tahun 2015 dengan harga 3,5juta (Tiga Juta Lima Ratus rupiah), dari sahara talibo selaku tangan kedua pemilik lahan dihadapan gusni mamentu selaku pemilik lahan pertama tanpa dokumen apapun hanya saling percaya saja, (IS) mulai menggarap lahan tersebut sejak tahun 2016 sampai akhir tahun 2019.

Kemudian (IS) kembali ke kampung halaman kedua orang tuanya di Kota Bitung, Sulawesi Utara sampai tahun 2022.

Saat dirinya kembali ke desa Iyok, Nuangan Boltim, tahun 2022 untuk kembali bertani, menggarap perkebunan miliknya sendiri, mulailah terjadi perkara penyerobotan lahan dengan orang-orang yang mengatakan bahwa lahan kebun tersebut bukan milik (IS) lagi.

Perkara penyerobotan tanah mulai terjadi sejak akhir tahun 2022, dirinya dilarang berkebun atas dasar surat dokumen (spkt) yang diduga palsu dikeluarkan pihak perangkat desa, atas nama sahara talibo, dokumen tersebut menjadi landasan mafia tanah untuk melakukan penyerobotan lahan.

“Saya tidak lagi dapat berkebun, karna tanah perkebunan yang saya garap di ambil ahli oleh anak Sahara Talibo dilakukan penyerobotan pakai surat-surat yang dikeluarkan perangkat desa, sementara tanah awalnya milik Gusti Mamentu, gusni menjualnya ke Sahara Talibo tanpa dokumen. Kemudian saya membeli lahan kebun itu dari sahara talibo dihadapan Gusni mamentu selaku pemilik pertama dan sebagai juga tanpa dokumen apapun, namun saat ini perangkat desa berpihak kepada Sahara Talibo. Tutup mata dan tidak mau mendengarkan peryataan pemilik tanah sebelumnya. Bahkan semua masyarakat desa ini tau itu kebun saya, yang saya garap dari 2016 sampai tahun 2019, ujar Ilham.

Praktek penyerobotan didasari dengan surat-surat dokumen kwutansi, surat pembayaran pajak, akar tanah (spkt) dari perangkat desa.

Melalui penelusuran awak media ke berbagai pihak tentang kebenaran surat tersebut, dokumen-dokumen tersebut di ada-adakan saat terjadinya perkara dan tidak terdaftar di kantor perpajakan .

Gusti Mamentu selaku pemilik tanah perkebunan saat di konfirmasi awak media, membenarkan tanah perkebunan tersebut milik (IS), awalnya dirinya menjual lahan tersebut kepada Sahara Talibo berselang beberapa bulan Sahara kembali menjual lahan kebun tersebut sebesar 3,5juta rupiah kepada (IS) secara langsung, transaksi jual beli berlangsung dikediaman Sahara Talibo. Gusni selaku pemilik lahan pertama dirinya menjadi saksi atas transaksi jual beli lahan perkebunan dari Sahara Talibo kepada (IS).

“Saya jual kebun saya kepada Sahara tanpa dokumen apapun kemudian berselang beberapa bulan sahara menjual lahan kebun tersebut kepada Ilham Sahempa sebesar 3,5juta. Transaksi jual beli itu terjadi tahun 2015 di rumahnya ibu Sahara Talibo, yang beli (IS). Sementara itu saya selaku pemilik lahan pertama menjadi saksi atas jual beli itu antara Sahara dan Ilham dirumahnya. Saya juga tidak tau kenapa hari ini anaknya Sahara Talibo merampas tanah milik (IS) pakai dokumen yang dibuat-buat dibantu perangkat desa dengan dasar tanah itu milik ibunya” ujar gusti mamentu.

Melalui penelusuran awak media lebih jauh, berbagai masyarakat petani yang kebun mereka tepat berseblahan dengan milik perkebunan (IS), membenarkan lahan kebun tersebut milik (IS), namun Sangat disayangkan perangkat desa memanipulasi data di atas surat-surat dengan nama Sarah Talibo.

Arifin ibrahim selaku kepala desa Iyok saat di konfirmasi awak media di kediamanya tidak mau memberikan penjelasan terkait dokumen yang dipakai anak Sarah Talibo untuk penyerobotan lahan kebun milik Ilham.

“Kalian wartawan kalau mau lakukan investigasi didesa saya harus meminta izin saya dulu, kalau mau mempertanyakan permasalahan surat-surat silahkan tanya saja sama kecamatan, jangan pertanyakan masalah penyerobotan lahan kepada saya, sudah banyak masalah begini di desa kami” ujar kepala desa dengan nada tinggi.

Sangat disayangkan jika prangkat desa melakukan praktek kotor bekerjasama dengan pihak-pihak mafia tanah dengan mengada-adakan dokumen yang tidak sepantasnya dimanipulasi dan buat.

Jika praktek tersebut tidak di tindak lanjuti oleh kepala pemerintah sulawesi utara dan aparat penegak hukum harus berapa banyak lagi hak tanah masyarakat yang akan di rampas, apa lagi perangkat desa yang seharunya berpihak pada masyarakat kecil, kini telah bekerjasama dengan para oknum mafia tanah.

KUHP Pasal 385 Jelas Mengatur mengenai perbuatan mengambil/merampas hak orang lain, dalam hal ini tanah, secara melawan hukum.

Perpu 51/1960 Jelas Mengatur mengenai larangan memakai tanah tanpa izin yang berhak atau kuasanya yang sah.
Untuk itu pihak-pihak yang memberi bantuan dengan cara apapun juga dapat dijatuhi pidana sesuai perundang-undangan.

(Kifli polapa)

Related Posts