Budhy Fantigo Menyanggah Pernyataan Kontroversial Dosen Akuakultur: Teknologi Budidaya Udang Modern dan Berkelanjutan

Budhy Fantigo Menyanggah Pernyataan Kontroversial Dosen Akuakultur: Teknologi Budidaya Udang Modern dan Berkelanjutan
Budhy Fantigo Menyanggah Pernyataan Kontroversial Dosen Akuakultur: Teknologi Budidaya Udang Modern dan Berkelanjutan

Ivestigasimabes.com l Jepara -- Budhy Fantigo, dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia, menegaskan penolakannya terhadap pernyataan yang dianggap mengherankan dari dosen akuakultur yang seolah-olah memusuhi usaha budidaya udang. Fantigo sebagai akedemisi menekankan bahwa usaha budidaya udang merupakan program strategis yang didukung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (Kemenkomarves) untuk meningkatkan produksi, mendukung devisa negara, dan menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat di dua Desa, Desa Karimunjawa, Desa Kemunan Kec. Karimunjawa Kab. Jepara, Jawa Tengah. 08/02/2024.Dia juga menegaskan bahwa teknologi budidaya udang saat ini telah modern dan tidak menggunakan bahan kimia atau antibiotik, yang menunjukkan komitmen untuk menjaga kualitas produk dan keberlanjutan lingkungan.

Budhy Fantigo menjelaskan kepada Investigasimabes.com wawancara sambungan Hanphon chate Watshapp Rabu, 07/02/2024 bahwa budidaya udang di Karimunjawa tidak menggunakan air tanah, melainkan menggunakan air laut secara langsung. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk khawatir akan terjadi instrusi air laut karena tidak ada pengambilan air tanah yang dapat menyebabkan fenomena tersebut. Selain itu, petambak udang di Karimunjawa sudah menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang terbukti berfungsi dengan baik. Dengan demikian, praktik budidaya udang di Karimunjawa tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga telah mengimplementasikan langkah-langkah untuk menjaga keseimbangan lingkungan secara efektif. "Tandasnya.Budhy Fantigo menyarankan agar Prof Sri Rejeki datang langsung ke Karimunjawa untuk melakukan riset dan melihat kondisi secara langsung. Fantigo menekankan pentingnya mengumpulkan data empiris terbaru daripada hanya mengandalkan kunjungan pada tahun 2010 atau berbicara secara seenaknya di media. Baginya, sebagai seorang akademisi, penting untuk memiliki data empiris, fakta, dan analisis yang kuat sebelum menyampaikan pendapat atau membuat pernyataan. Hal ini penting untuk memastikan keakuratan dan keberlanjutan dalam memberikan informasi atau penilaian terhadap suatu isu."Ujarnya.

Budhy Fantigo menjelaskan bahwa dirinya beserta tim telah melakukan survei di Karimunjawa selama seminggu, mengunjungi semua tambak yang ada di sana. Hasilnya menunjukkan bahwa semua tambak sudah dilengkapi dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Mereka juga memeriksa kualitas air di dalam tambak, IPAL, inlet, dan outlet untuk beberapa faktor fisik, kimia, dan biologi. Hasilnya menunjukkan bahwa kualitas air di sekitar tambak tidak melampaui batas baku mutu yang telah ditetapkan. Ini menunjukkan bahwa praktik budidaya udang di Karimunjawa telah memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan.Budhy Fantigo menekankan bahwa timnya juga telah memeriksa vegetasi mangrove dan mikrofauna di perairan sekitar tambak. Mereka menemukan bahwa mangrove di sekitar tambak tumbuh subur, menunjukkan bahwa praktik budidaya udang di Karimunjawa tidak mengganggu ekosistem mangrove. Fantigo menegaskan pentingnya melakukan riset dan survei secara mendalam sebelum membuat asumsi atau menyampaikan pendapat. Dia mengkritik sikap seorang akademisi yang membuat pernyataan tanpa dasar yang jelas, menyebutnya sebagai perilaku memalukan yang tidak sesuai dengan standar akademis. " Ungkapnya.

Budhy Fantigo menyatakan kegeliannya terhadap pernyataan seorang pendidik yang mengatakan bahwa pulau Karimunjawa akan tenggelam jika tambak dibiarkan. Dia menambahkan bahwa Karimunjawa adalah pulau berbukit, dengan bukit tertinggi mencapai 500 meter di tengahnya dan sebagian besar wilayahnya merupakan dataran tinggi, hanya sedikit wilayah rendah di pinggirnya. Fantigo menganggap bahwa lebih masuk akal untuk berpikir bahwa kota Semarang dan Jepara akan lebih berisiko tenggelam sebelum Karimunjawa, mengingat topografi pulau tersebut.Pada awal tahun lalu, tim yang dipimpin oleh Budhy Fantigo secara sengaja mengunjungi Universitas Diponegoro (Undip) untuk meminta klarifikasi dari Prof Sri Rejeki. Meskipun dekan Undip sudah mengundang Prof Sri Rejeki, namun beliau tidak hadir pada acara tersebut. Sebagai gantinya, tim yang terdiri dari lima orang berdiskusi dengan lima guru besar perikanan yang hadir saat itu. Diskusi berlangsung hangat dan produktif, tidak ada kejadian menyeramkan seperti yang di beritakan oleh media online sebelumnya. Hal ini menunjukkan keseriusan dan ketulusan dari pihak Budhy Fantigo untuk mencari pemahaman yang lebih mendalam mengenai isu budidaya udang di Karimunjawa ramah lingkungan." Tutup Wakil ketua umum Masyarakat Akuakultur Indonesia mengakhiri wawancaranya. (Masdur).

Editor : Investigasi Mabes
Tag: