InvestigasiMabes.com | Jambi - Proses Pemilihan umum (Pemilu) 2024 yang telah berlangsung terkhusus di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi menuai banyak pelanggaran, dan kesan penyelengara tidak berintegritas.
Pelanggaran ini selalu muncul diduga dari petugas penyelenggara Pemilu di semua tingkatan, seperti adanya orang yang sudah meninggal ikut nyoblos, masalah teknis tidak mengunakan KTP tetap ikut memilih.
Kemudian terakhir ini mencuat permasalahan pelanggaran kode etik atas dugaan penggelembungan suara oknum caleg DPR RI dari partai Demokrat di Kecamatan Tengah Ilir.
Persoalan ini bukan permasalahan luarbiasa namun memang sudah kerap terjadi pada proses pesta demokrasi di Indonesia. Terkhusus di Kabupaten Tebo.
Sebelumnya setiap perhelatan pesta demokrasi pasti selalu disosialisasikan oleh berbagai pihak, maupun KPU sendiri, menuangkan poin poin pelanggaran dalam aturan PKPU.
"Tapi kenapa, ini terjadi dan terjadi lagi, suap kepada petugas penyelenggara setiap tingkatan, maupun pemilih, kemudian nekat mencoblos surat suara sisa, dan merubah rekap hasil perolehan suara," ujar Deby Erwin, Ketua KNPI Tebo.
Lanjutnya, permasalahan ini harus menjadi pokok keseriusan yang musti dibenahi, pertama dari sisi perekrutan penyelenggara, dan pembenahan mindset pengurus partai, serta mental pemilih.
Kenapa demikian? karena dalam perekrutan penyelenggara selama ini, terkesan dugaan adanya campur tangan partai politik dalam mengintervensi dan menentukan proses perekrutan, dan memenangkan jagoannya untuk duduk di posisi strategis penyelenggara.
"Bahasa kasarnya, kira kira seperti ini, ya ada titipan atau rekomendasi dari parpol untuk meloloskan para calon penyelenggara. Akhirnya kita sebut politik tabur tuai," kata aktivis muda ini.
Parpol sebagai peserta politik tentu memiliki berbagai cara untuk melancarkan kepentingannya, menyisipkan penyelenggara dipilih dari orang yang memiliki komitmen ke partai, tentulah cara ini dapat mempermudah meraih kemenangan.
Sebab itulah pada perhelatan Pemilu 2024 ini, seluruh penyelenggara terkesan punya dekengan politik, makin berani berprinsip jika ada permasalahan selesai di warung kopi saja.
"Kami harap persoalan ini segera cepat diberantas dan berikan efek jera pada oknum oknum dengan ancaman pidana yang sesungguhnya, jangan terkesan olok olok saja. Proses segera pelaku, baik pegiat parpol maupun penyelenggara bahkan dari oknum terlibat lainnya," pungkasnya geram.
Editor : Investigasi Mabes