Riset Ungkap: Grup WhatsApp di Indonesia Jadi Sarang Hoaks dan Informasi Sampah

Riset Ungkap: Grup WhatsApp di Indonesia Jadi Sarang Hoaks dan Informasi Sampah
Riset Ungkap: Grup WhatsApp di Indonesia Jadi Sarang Hoaks dan Informasi Sampah

● Hampir semua data serta obrolan dapat terjadi dalam grup WhatsApp (WAG).

● Berdasarkan penelitian, grup WhatsApp dapat menjadi tempat penyimpanan berkas sampah atau informasi yang tidak berguna.

● Diperlukan admin grup WhatsApp untuk memverifikasi keabsahan informasi yang disebar dan mencegah terjadinya perpecahan

“Bangun tidur, buka WhatsApp Group (Kelompok Grup WhatsApp)—sepertinya kebiasaan ini telah menjadi bagian biasa dari rutinitas generasi modern, terlebih lagi untuk kalangan pemuda yang fasih menggunakan teknologi. Bisa Anda sebutkan jumlah kelompok Kelompok WhatsApp yang Anda ikuti dalam satu akun WhatsApp? Mungkin akan cukup rumit untuk menghitungnya.

Mayoritas data serta obrolan saat ini dapat dilakukan dalam grup WhatsApp. Baik mahasiswa dari universitas maupun pelajar dari sekolah juga ikut bergabung ke dalam grup WhatsApp yang mencakup teman satu kelas dan para dosen atau guru mereka. Para dosen ataupun guru seringkali menyampaikan pekerjaan rumah lewat grup tersebut. Terdapat pula kelompok WhatsApp untuk pengajian yang digunakan sebagai platform bagi pembagian jadwal pengajaran atau bahan presentasi.

Grup chat yang sering dimasuki oleh banyak orang adalah WAG keluarga. Di dalam grup tersebut, informasi bermacam-macam mengalir; mulai dari topik politik, nasihat finansial, sampai panduan seputar kesehatan. Akan tetapi, sayangnya grup ini juga kerap menjadi tempat penyebaran berita palsu atau hoaks, baik itu dilakukan secara sadar maupun tidak oleh pengirim pesannya.

WAG telah menjadi area obrolan digital yang ramai selama dua puluh tahun terakhir. Tidak mengherankan, karena WhatsApp merupakan sebuah aplikasi. yang paling sering dipakai dan paling diminati di dunia.

Menurut riset Yang telah saya lakukan pada 112 pengguna WhatsApp, adanya aplikasi ini—terutama WAG—sudah menciptakan dampak. ketergantungan yang sangat tinggi.

Sekarang ini, sayangnya, WAG bukan cuma berfungsi sebagai alat untuk menyebarkan gagasan, tapi juga kerap dijadikan tempat membuang data sembarangan layaknya TPA. Salah satunya ialah hoaks atau informasi keliru. Hal itu membuat diskusi dalam ranah digital menjadi tidak merata dan kurang kondusif.

Gudang sampah informasi

Hasil penelitianku mengungkapkan bahwa WAG berfungsi sebagai sarana perkembangan ide dengan frekuensi yang tinggi. Percakapan yang terjalin di sana kerap mencerminkan diskusi dari platform-media sosial, layar kaca TV, sampai pembicaraan tentang politik negeri kita.

Bermacam-macam data—baik itu sah maupun tidak—beredar tanpa pengendalian yang jelas, akibatnya bisa membentuk kesalahan persepsi dan mengeraskan keyakinan. buble filter dan ruang gema , tempat di mana para anggota hanya terkena sudut pandangan tertentu tanpa memperoleh wawasan yang lebih luas.

Dalam tiap kelompok umumnya terdapat tipe anggota yang sigakt berpartisipasi dengan cepat membalas dan rutin menyebarluaskan data secara kontinyu. Fenomena tersebut sering kali menciptakan kepadatan percakapan informasi.

Menurut penelitian saya, pararesponden merasa kesulitan menangani jumlah data yang berlebihan, biasanya karena kurangnya relevansi dan tantangan dalam proses penyortirannya. Hal ini dikenal sebagai “informasi berkepanjangan” atau overload informasi. information overload atau kelimpahan informasi. Ini menyebabkan orang menghadapi tantangan dalam menangani sejumlah besar data.

Sehingga, banyak anggota lebih memilih untuk tidak menyimak pesan yang diterima, menghiraukannya, atau bahkan langsung menghapusnya tanpa melihat isi dalamnya. Data tersebut umumnya disepelekan oleh anggota yang kurang aktif.

Hal ini mengindikasikan bahwa mayoritas pesan di WhatsApp belum tentu mencapai penerima yang tepat, tetapi malah berkontribusi pada penumpukan data yang kurang bermanfaat. Akibatnya, komunikasi menjadi tidak efisien dan dapat terhalangi.

Hoaks dan disinformasi

Ketinggian volume pesan memicu WhatsApp sebagai lahan yang menguntungkan untuk penyebaran kabar bohong dan disinformasi. Karena kurangnya sistem filterisasi informasi, berita palsu dengan cepat menyebar, khususnya menjelang periode politik.

WAG juga kerap menjadi tempat perlombaan ideologi dan politik. Perselisihan dalam pandangan dapat mengakibatkan perseteruan yang panjang apabila para anggota saling menyerang menggunakan argumen masing-masing. Sebagaimana dijelaskan Teori Analisis Wacana Kritis (AWK) Menurut Ruth Wodak, tiap diskursus di ranah digital tak terpisahkan dari hubungan kuasa dan ideologinya yang mendasarinya.

Pada kasus seperti ini, diperlukan adanya administrator atau moderator di grup WhatsApp (WAG) untuk membantu mengurangi penyebaran informasi palsu serta memastikan obrolan tetap terkendali dan damai. Akan tetapi, hasil riset saya mencatat bahwa kebanyakan grup WA kurang dilengkani dengan sistem moderasi yang handal. Karena absennya manajemen yang tepat, grup-grup tersebut malah sering kali dipakai sebagai tempat berkembarnya kabar-kabar salah.

Ketimpangan dalam ruang percakapan

Dari 112 orang yang saya tanya, kebanyakan menjawab bahwa cuma sedikit saja anggotanya yang benar-benar ikut serta dalam membahas sesuatu di salah satu grup WhatsApp tersebut. Sebagian besar anggota cenderung bungkam dan memilih untuk tidak membuka pesan-pesan yang masuk. Hal ini mencerminkan adanya ketidakseimbangan dalam komunikasi pada grup WhatsApp itu; ada yang banyak bicara sementara sisanya cukup jadi penonton.

Perbedaan ini mempengaruhi keefektifan komunikasi di dalam WhatsApp Group (WAG). Sebaliknya dari tujuan awal sebagai tempat bertukar pikiran dengan sehat, grup tersebut cenderung menjadi arena bagi individu tertentu untuk mendominasi dan menyebarluaskan informasi tanpa adanya sistem penyaringan yang jelas.

Hasil studi menyatakan bahwa jumlah peserta pasif melebihi peserta aktif. Kebanyakan suara dalam diskusi grup WhatsApp berasal dari anggota aktif, mencerminkan adanya ketidakseimbangan dalam interaksi kelompok tersebut.

Mengatasi kekacauan informasi

Pada studi itu, saya menyarankan untuk meningkatkan pemahaman digital sebagaimana mestinya dilakukan terlebih dahulu. Pihak pengguna WhatsApp harus menjadi lebih teliti saat menyaring berita dan juga mengerti bagaimana sistem algoritma di platform-media sosial bekerja, yang umumnya mendorong pembentukan gelembung informasi.

Di samping itu, fungsi admin ataupun moderator sebaiknya ditingkatkan lagi. Admin grup WhatsApp tak cuma berperan dalam pengelolaan anggotanya saja, melainkan juga bertanggung jawab untuk memverifikasi keabsahan dari informasi yang dishare serta mencegah terjadinya polarisasi negatif di antara para peserta.

Grup WhatsApp sudah menjadi elemen integral dalam hidup digital kita. Jika tanpa manajemen yang tepat, grup ini bisa berubah jadi area yang kurang produktif, dipenuhi data yang tidak berguna, serta dapat mengancam kualitas demokrasi informasi.

Diperlukan pemahaman tentang kepentingan literasi digital serta penggunaan WAG dengan bijaksana agar ruang obrolan digital ini bisa berkembang menjadi wadah yang lebih positif dan efisien. Secara pada intinya, bukanlah teknologilah yang buruk, melainkan cara manusia memanfaatkannya yang menetapkan apakah hal itu akan membawa manfaat atau kerugian.

Artikel ini awalnya dipublikasikan di The Conversation , website berita nonprofit yang mendistribusi ilmu pengetahuan akademik serta hasil riset para penyelidik.

  • Tidak ada peningkatan kesejahteraan bagi pengemudi ojek online dan pekerja platform hanya dengan pemberian bonus saat hari raya sebagai basa-basi.
  • Taktik cerdas di belakang keberhasilan Spotify Wrapped

Abdullah Khusairi saat ini tidak bekerja, memberikan layanan konsultansi, memegang saham, atau menerima dana dari pihak manapun yang berpotensi mendapat keuntungan dari publikasi artikel ini. Ia juga menyatakan tak adaafiliasi tambahan selain apa yang sudah tercantum sebelumnya.

Editor : Investigasi Mabes
Tag: