Di Balik Seragam, Ada Hati: AIPTU Bambang Bangun Harapan Dua Lansia

Di Balik Seragam, Ada Hati: AIPTU Bambang Bangun Harapan Dua Lansia
Di Balik Seragam, Ada Hati: AIPTU Bambang Bangun Harapan Dua Lansia

InvestigasiMabes.com |Lampung Timur – Di sebuah sudut Desa Tegal Ombo, Kecamatan Way Bungur, tersimpan kisah tentang empati yang tak terhalang aturan. Seorang anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di wilayah Way Bungur, AIPTU Bambang, memilih bertindak ketika dua lansia nyaris kembali terpinggirkan oleh administrasi.

Kisah ini bermula dari rapat BLT Dana Desa Khusus di Balai Desa Tegal Ombo. Dua nama diusulkan untuk program bedah rumah: Mbah Paeran dan Mbah Solekan. Namun perdebatan muncul. Keduanya tidak memiliki tanah atas nama pribadi, sehingga dianggap tak memenuhi syarat administratif. Padahal, pada tahun sebelumnya mereka juga pernah gagal karena alasan serupa.

Nominal bantuan Rp10 juta pun dinilai belum cukup membangun rumah layak huni. Pertanyaan klasik kembali mencuat: jika dana tak cukup, siapa yang menanggung sisanya?

Usai rapat, Kepala Dusun dan anggota BPD menyampaikan kondisi sebenarnya kepada AIPTU Bambang. Rasa penasaran sekaligus iba membawanya turun langsung ke lapangan.

Di RT 16 Dusun 4, ia mendapati Mbah Paeran (62) hidup sebatang kara, menumpang di tanah milik keponakan. Rumahnya rapuh, jauh dari kata layak. Untuk bertahan hidup, ia memelihara empat ekor kambing.

Sementara di RT 17, Mbah Solekan (78) menjalani hari-hari dalam kesendirian, menumpang di tanah milik saudara, menggantungkan hidup dari bantuan pemerintah.

Ia menginisiasi musyawarah bersama perangkat desa dan tokoh masyarakat. Dari pertemuan itu lahirlah panitia bedah rumah secara swadaya dengan sistem gotong royong. Warga bergerak, bahu-membahu.

Tak hanya menggerakkan warga, AIPTU Bambang juga menyumbangkan satu bulan gajinya untuk membantu pembangunan rumah kedua lansia tersebut.

Ia mengantarkan sembako, pakaian, perlengkapan salat, bahkan mendatangkan tukang cukur untuk merapikan rambut Mbah Paeran—sentuhan kecil yang mengembalikan martabat dan rasa percaya diri.

Langkah itu menjadi bukti bahwa seragam bukan sekadar simbol kewenangan. Di baliknya ada hati yang peka terhadap penderitaan.

Di tengah keterbatasan anggaran dan ketatnya regulasi, empati tetap menemukan jalannya. Dari Desa Tegal Ombo, harapan kembali dibangun—bukan hanya dengan batu dan semen, tetapi dengan kepedulian dan gotong royong. (Rusman Ali)

Editor : Redaktur
Sumber : Team