InvestigasiMabes.com | Lampung Timur – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai upaya strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah kembali disalurkan di Kabupaten Lampung Timur. Namun menu yang dibagikan di SD Negeri 1 Negara Nabung, Kecamatan Sukadana, Jumat (6/3/2026) justru memunculkan pertanyaan dari sejumlah orang tua siswa.
Distribusi makanan dilakukan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bumi Ayu. Berdasarkan menu yang beredar di sekolah, paket MBG yang diberikan kepada siswa hanya terdiri dari susu sekolah kemasan 125 ml, puding, serta buah dengan topping keju.
Menu tersebut tidak hanya diberikan kepada siswa sekolah dasar, tetapi juga untuk penerima manfaat lain seperti balita serta anak PAUD/TK.
Namun di balik pembagian ribuan porsi makanan tersebut, muncul pertanyaan mendasar dari masyarakat: apakah menu yang disajikan benar-benar mencerminkan konsep “makan bergizi”, atau sekadar memenuhi kewajiban program secara administratif?
Komposisi Gizi di Atas Kertas
Dalam dokumen kandungan gizi yang tercantum pada menu, disebutkan bahwa:
Porsi kecil mengandung:
Energi: sekitar 317,9 kkal
Protein: 7,1 gram
Lemak: 4 gram
Karbohidrat: 56,6 gram
Serat: 0,3 gram
Secara angka, menu tersebut memang menunjukkan adanya kandungan energi dan protein. Namun jika dilihat dari jenis makanan yang disajikan, menu tersebut didominasi makanan manis dan olahan ringan.
Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai keseimbangan gizi, terutama terkait keberadaan protein hewani utama, sayuran segar, serta variasi bahan pangan yang umumnya direkomendasikan dalam pola makan sehat anak.
Salah satu orang tua siswa, Jainal Yusuf, menilai menu yang diterima anaknya terlihat terlalu sederhana jika dibandingkan dengan tujuan besar program MBG.
“Kalau hanya susu, puding, serta buah dengan topping keju, apakah itu sudah cukup untuk kebutuhan gizi anak sekolah?” ujar Jainal kepada wartawan, Jumat (6/3/2026).
Menurutnya, program sebesar MBG semestinya menghadirkan menu yang lebih lengkap dan seimbang, mengingat program tersebut diklaim sebagai salah satu langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi generasi muda.
Transparansi Anggaran Mulai Disorot
Selain kualitas menu, aspek transparansi pelaksanaan program juga mulai menjadi perhatian.
Sejumlah pihak menilai informasi mengenai nilai anggaran per porsi makanan, mekanisme pengadaan bahan pangan, hingga standar pengawasan kualitas menu seharusnya disampaikan secara terbuka kepada publik.
Transparansi ini dianggap penting agar masyarakat dapat memastikan bahwa program yang menyasar ribuan anak sekolah tersebut benar-benar berjalan optimal, bukan sekadar kegiatan distribusi makanan rutin.
Sementara itu, Kepala SPPG Bumi Ayu, Yoga Pratama Putra, saat dihubungi melalui pesan WhatsApp untuk dimintai konfirmasi terkait menu MBG di SD Negeri 1 Negara Nabung belum memberikan tanggapan hingga berita ini diterbitkan.
Program Besar Butuh Pengawasan Ketat
Program MBG pada dasarnya dirancang sebagai salah satu strategi nasional untuk menekan angka stunting dan memperbaiki status gizi anak Indonesia.
Namun tanpa pengawasan yang ketat serta evaluasi berkala terhadap kualitas menu, muncul kekhawatiran bahwa implementasi program di lapangan dapat melenceng dari tujuan awalnya.
Karena itu, pengawasan dari pemerintah daerah, pihak sekolah, serta masyarakat dinilai menjadi faktor penting agar program MBG tidak berhenti sebagai kegiatan administratif semata, melainkan benar-benar menjadi intervensi gizi yang berdampak nyata bagi kesehatan anak-anak. (Rusman Ali)
Editor : RedakturSumber : Team