InvestigasiMabes.com | Banyuwangi -Oleh: Yanto, Anggota LPKMI
Banyuwangi kembali dihadapkan pada pertanyaan penting terkait arah pembangunan sektor pariwisata, khususnya pada Agrowisata Tamansuruh (AWT). Sebagai bagian dari masyarakat yang peduli terhadap tata kelola anggaran dan kualitas pembangunan daerah, saya memandang perlu adanya evaluasi serius terhadap destinasi ini.
Dengan anggaran yang disebut mencapai puluhan miliar rupiah, publik tentu menaruh harapan besar. Namun, realita di lapangan—sebagaimana terlihat dari wahana yang beredar di publik—menunjukkan adanya kesenjangan antara ekspektasi dan hasil. Wahana kereta mini yang disuguhkan, misalnya, secara kasat mata tidak jauh berbeda dengan hiburan yang biasa kita temui di pasar malam atau pameran rakyat.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah sederhana namun mendasar: di mana letak nilai tambah dari investasi sebesar itu?
Sebagai anggota LPKMI, saya menilai bahwa pembangunan destinasi wisata tidak boleh sekadar berorientasi pada fisik atau tampilan semata. Lebih dari itu, harus ada konsep yang kuat, inovatif, serta memiliki identitas yang jelas. Banyuwangi selama ini dikenal sebagai daerah yang kaya akan budaya dan potensi alam. Maka sangat disayangkan jika destinasi yang dibangun dengan anggaran besar justru tidak mampu mencerminkan keunggulan tersebut.
Saya juga memandang pentingnya transparansi dalam penggunaan anggaran. Masyarakat berhak mengetahui bagaimana dana publik dikelola, apa saja peruntukannya, serta sejauh mana manfaat yang dihasilkan. Tanpa keterbukaan, ruang spekulasi akan terus terbuka dan berpotensi menurunkan kepercayaan publik.
Lebih jauh, keberlanjutan destinasi wisata seperti AWT juga perlu dipikirkan secara matang. Jika tidak ada inovasi dan pembaruan yang berkelanjutan, maka bukan tidak mungkin destinasi ini hanya akan ramai di awal, lalu perlahan ditinggalkan karena minim daya tarik.
Opini ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan sebagai bentuk kepedulian. Saya berharap pemerintah daerah dapat menjadikan kritik ini sebagai bahan evaluasi, agar Agrowisata Tamansuruh benar-benar menjadi destinasi wisata yang membanggakan, bukan sekadar proyek dengan anggaran besar namun minim kualitas.
Pada akhirnya, pembangunan yang baik adalah pembangunan yang mampu menjawab harapan masyarakat—bukan hanya dalam angka, tetapi juga dalam kualitas dan manfaat nyata.
Editor : RedakturSumber : Yanto LPKMI