Investigasimabes.com | Dieng - Di ketinggian 2.590 Mdpl di atas permukaan laut, Taman Pendakian Gunung Prau di kawasan Dataran Tinggi Dieng menawarkan pemandangan yang kerap disebut “terlalu indah untuk dilewatkan”—hamparan perbukitan berlapis, langit yang terasa dekat dan garis pegunungan yang membingkai cakrawala.
Namun di balik magnet alamnya yang kuat, ada soal mendasar yang masih mengganggu kenyamanan: minimnya fasilitas dalam pemenuhuan kebutuhan dasar para pengunjung untuk hajat buang air kecil dan buang air besar tentunya.
Di jalur-jalur pendakian yang ramai, suasana alami Gunung Prau terasa dominan sejak langkah pertama. Udara sejuk, vegetasi yang berganti dari hutan menuju padang rumput, hingga kontur pegunungan yang membuka pandangan lebar menjadi pengalaman yang dicari pendaki.
Dari titik-titik tertentu, lanskap tersaji seperti panggung: lekuk bukit hijau, kabut tipis yang berpindah pelan, dan perubahan warna langit yang dramatis saat pagi dan sore hari.
Daya tarik utama Gunung Prau terletak pada aksesnya yang relatif bersahabat, namun tetap memberi sensasi “gunung sungguhan.” Jalurnya populer untuk pendaki pemula maupun mereka yang mengejar momen matahari terbit, ketika siluet pegunungan tampak berlapis dan cahaya menembus kabut.
Di area puncak, atmosfernya cenderung hening—ramai oleh manusia, tetapi tetap terasa “liar” oleh angin, suhu yang cepat berubah, dan bentang alam yang tak berhenti memikat mata.
Keramaian yang meningkat, sayangnya, belum sepenuhnya diimbangi kesiapan fasilitas paling dasar. Di beberapa titik, kebutuhan toilet menjadi persoalan nyata: jumlahnya sangat terbatas bahkan bisa dikatakan nyaris tidak ada, kondisi tidak selalu memadai untuk lonjakan pengunjung pada akhir pekan maupun musim liburan.
Situasi ini bukan sekadar soal ketidaknyamanan; ia berkaitan langsung dengan kebersihan kawasan, martabat pengalaman wisata, serta risiko pencemaran yang dapat merusak ekosistem yang justru menjadi alasan orang datang.
Sudah sepantasnya daerah yang memiliki destinasi wisata memperhatikan fasilitas dasar, karena dampaknya langsung terasa pada kenyamanan pengunjung dan citra pengelolaan kawasan.
Ketika kebutuhan elementer seperti BAK dan BAB tak difasilitasi secara layak, beban akhirnya jatuh pada alam dan pada pengunjung itu sendiri—dan pada jangka panjang bisa menggerus minat berkunjung.
Padahal, kenyamanan yang terjaga berbanding lurus dengan potensi pendapatan daerah: wisata yang dikelola rapi mendorong kunjungan berulang, memperpanjang lama tinggal, serta menghidupkan usaha lokal di sekitar pintu-pintu pendakian.
Gunung Prau telah memberi lebih dari cukup alasan bagi orang untuk datang—panoramanya luar biasa, suasananya alami, dan jejak pendakiannya menyimpan pengalaman yang mudah dikenang.
Kini, yang dibutuhkan adalah keseriusan pengelola dan pemangku kebijakan untuk memastikan fasilitas dasar tidak tertinggal dari promosi keindahan.
Menjaga alam tidak cukup hanya dengan mengagumi; ia harus ditopang tata kelola yang menghormati kebutuhan manusia sekaligus melindungi gunung dari beban yang semestinya dapat dicegah.
Liputan : *Agung Riano, S.Ap*
Editor : Investigasi MabesSumber : Tim