InvestigasiMabes.com l Jepara - Fenomena perubahan warna air laut dan melimpahnya alga di Pantai Pailus, Desa Karanggondang, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, menjadi perhatian warga dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi ini diduga terkait algal bloom atau ledakan populasi alga, yaitu meningkatnya fitoplankton secara cepat hingga mengubah warna air menjadi kehijauan sampai cokelat pekat, disertai air keruh dan bau tidak sedap di beberapa titik.
Namun penyebab pastinya masih memerlukan pembuktian ilmiah melalui uji laboratorium.
*Dugaan Warga dan Pentingnya Pembuktian Ilmiah
Sebagian warga menduga kondisi ini berkaitan dengan aktivitas tambak udang vaname di sekitar. Kekhawatiran muncul karena warga pesisir yang berprofesi sebagai pelaku wisata, pembudidaya bandeng, latoh, dan nelayan berpotensi terdampak jika kualitas air menurun.
Secara teori, limbah budidaya intensif dari sisa pakan dan ekskresi memang mengandung bahan organik dan nutrien seperti nitrogen dan fosfor yang bisa memicu pertumbuhan alga.
Meski demikian, keberadaan nutrien bukan satu-satunya faktor. Suhu air, cahaya matahari, sirkulasi air, musim, dan curah hujan juga berpengaruh.
"Karena itu dugaan pencemaran tidak bisa disimpulkan dari satu sumber saja, termasuk tambak. Harus ada pembuktian dari pihak berwenang," tulis dalam rilis tersebut.
PT Ghana Utamadi Dhuniara, pengelola tambak udang vaname di Desa Sekuro seluas 118.293 meter persegi, menyatakan telah melakukan optimalisasi IPAL untuk memenuhi baku mutu.
*Faktor Alam dan Suhu Air Laut
Peningkatan suhu air laut dapat mempercepat metabolisme alga. Musim kemarau panjang dengan intensitas cahaya tinggi juga mendukung pertumbuhan alga lebih cepat. Variabilitas iklim seperti El Niño turut memengaruhi suhu permukaan laut.
Oleh sebab itu, fenomena di Pailus tidak bisa disimpulkan hanya dari satu faktor tanpa kajian menyeluruh.
*Pembersihan Pantai Sudah 80 Persen
Upaya penanganan fisik telah dilakukan. Perwakilan pengelola wisata Pantai Pailus, Ma'ruf, melalui pesan WhatsApp pada Jumat (11/9/2026) menyebut pembersihan alga melibatkan Pemdes Karanggondang dan pihak perusahaan.
"Kami bersama Pemdes dan perwakilan perusahaan sudah mengawasi pembersihan. Sejauh ini tidak ada masalah terkait pencemaran. Proses pembersihan berjalan baik dan hampir 80 persen," ujarnya.
Pembersihan dilakukan secara manual dan dengan alat berat di titik yang membutuhkan penanganan skala besar, termasuk pemantauan bawah laut untuk melihat kondisi terumbu karang.
*DLH Jepara Tunggu Hasil Lab Provinsi
Kepala Bidang Penataan dan Penaatan PPLH DLH Kabupaten Jepara, Ahmad Nafe'i Sutejo, S.E., M.M., mengatakan pihaknya masih menunggu laporan resmi.
"Kita menunggu hasil laporan resmi dari petugas DLHK Provinsi Jateng, yang mengambil dan memeriksa sampel air dan lumut. Mereka yang akan memberikan keterangan terkait hasilnya," kata Nafe'i.
Hasil lab nantinya akan menjadi dasar untuk menilai apakah ada pencemaran dan dari mana sumbernya.
*Berbeda dengan Kasus Karimunjawa
Kasus di Pailus tidak bisa disamakan dengan kasus di Karimunjawa. Setiap kasus memiliki karakteristik lokasi, sumber nutrien, dan sistem pengelolaan limbah yang berbeda. Penentuan penyebab tetap harus melalui sampel, uji lab, dan penelusuran sumber pencemar.
Hingga kini, PT Ghana Utamadi Dhuniara menyatakan kooperatif dalam proses monitoring dan menunggu hasil resmi pemeriksaan lingkungan. (Tim).
Editor : Investigasi MabesSumber : Tim