InvestigasiMabes.com | Jepara - Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bandengan saat ini mengalami kelebihan kapasitas (overload). Setiap hari, volume sampah yang masuk mencapai 110 hingga 150 ton.
Untuk mengatasi kondisi darurat tersebut, Pemerintah Kabupaten Jepara melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menyiapkan langkah-langkah darurat dan strategis.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jepara, Sridana Paminto, S.E., M.M., mengatakan ada empat langkah utama yang disiapkan, Kamis (1/10/2026).
*1. Pembentukan Satgas Penuntasan Sampah
Langkah birokrasi tercepat adalah membentuk Satgas yang bertugas mengintegrasikan pengelolaan sampah dari hulu ke hilir. Seluruh ASN diwajibkan menjadi pelopor gerakan pemilahan sampah organik dan anorganik di lingkungan masing-masing.
*2. Pengadaan Teknologi Pengolahan Sampah
Pemkab Jepara akan berinvestasi pada teknologi pemrosesan cepat untuk memotong volume sampah yang masuk ke TPA. Di antaranya pengadaan mesin Insinerator dan pembangunan fasilitas RDF (Refuse Derived Fuel) untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif dan sumber energi baru.
*3. Perluasan Lahan TPA Bandengan
Mengingat daya tampung zona landfill yang sudah kritis, DLH Jepara juga menyiapkan rencana perluasan lahan TPA Bandengan.
*4. Intervensi dari Hulu: Revitalisasi TPS3R dan Bank Sampah
DLH menyadari beban TPA tidak akan berkurang jika sampah tidak diselesaikan dari bawah. Oleh karena itu, Pemkab akan mengaktifkan kembali Bank Sampah di desa-desa, menggerakkan program TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle), serta gerakan sedekah sampah dan ekspansi Desa Mandiri Sampah.
Selain empat langkah darurat tersebut, DLH Jepara juga tetap menjalankan program prioritas lainnya, yaitu:
*a. Optimalisasi Tata Kelola Sampah*agar residu yang dibuang ke TPA berkurang.
*b. Penguatan Sektor Hulu*melalui bank sampah dan pengolahan sampah organik menjadi pupuk.
Dengan penataan sungai berbasis kolaborasi hexahelix yang melibatkan perguruan tinggi.
*d. Gerakan Penghijauan untuk mengurangi luasan lahan kritis di Jepara.
"Dengan demikian kami berharap masyarakat aktif memilah sampah dari rumah, membentuk bank sampah, dan mengolah sampah dapur menjadi kompos. Ini untuk mendukung Jepara yang bersih dan mewujudkan target Jawa Tengah zero waste di tahun 2028," ujar Sridana Paminto.
Editor : RedakturSumber : Team