Kepala Bulog Saumlaki Diduga Pojokkan Wartawan, Cederai Kode Etik

Kepala Bulog Saumlaki Diduga Pojokkan Wartawan, Cederai Kode Etik
Kepala Bulog Saumlaki Diduga Pojokkan Wartawan, Cederai Kode Etik

InvestigasiMabes.com  | Saumlaki - Kepala Bulog (Kabulog) Saumlaki Ronal Tahilatu (RT) diduga memojokkan wartawan, mencederai kode etik sebagai insan Perusahaan Umum (Perum) Bulog, dan membangun relasi ekslusif dengan awak media cyber tertentu di Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT), Provinsi Maluku. 

Dugaan tersebut disampaikan langsung oleh tiga Wartawan Indonesia yang tergabung dalam 1 Media Lokal dan 2 media nasional lewat media ini pada Rabu, 22/11/2023, Pkl 19.30 WIT. 

Cederai Kode Etik & Pojokkan Wartawan.Dalam Bab 2, No. 13 poin f dan g Peraturan Bersama antara Direksi & Dewan Pengawas Perum Bulog yang disebutkan bahwa,

"Insan BULOG tidak dibenarkan mengekspresikan hal-hal terkait pandangan, penilaian dan kepentingan pribadi yang dapat menimbulkan citra negatif bagi Perusahaan."Juga poin g berbunyi, "Perusahaan tidak bertanggungjawab atas pernyataan pribadi

dan opini Insan BULOG yang dimuat media sosial pribadi", tegas sumber. 

Pertama, Sumber mengajukan pertanyaan konfirmasi lanjutan lewat WhatsApp (WA) pribadi sebagai berikut :"Oh ya Pak, apakah waktu akhir bulan itu (proses distribusi/penjualan beras kepada masyarakat, red.) dipengaruhi oleh belum tersedianya karung 5 kg atau ada alasan lain? Juga, apakah benar saat ini ada 500 ton beras di Gudang atau lebih? Mohon maaf ya Pak, Ini demi pelayanan untuk masyarakat banyak makanya Saya juga banyak bertanya. Harap maklum ya.." (17/11, Pkl. 16.31 WIT), jelas sumber.

 Parahnya, atas pertanyaan itu RT menanggapi sebagai berikut,

"Sementara proses kemas. Bulog itu kelola cadangan beras pemerintah jadi beras selalu ada. Bukan ditimbun. Keliru pak. Kadang pewarta itu tak paham tapi bikin berita. Makanya rekan - rekan pewarta Nonton berita juga pak di TV supaya tahu dan paham baru tulis berita supaya jangan keliru. Jangan asal bikin berita. Mesti bijak pak. Sekedar masukan saja untuk rekan - rekan pewarta." (17/11, Pkl. 16.55 WIT). 

Selanjutnya, entah apa penyebabnya RT tiba - tiba menghapus teks bernada sinis tersebut. Sayangnya, percakapan tertulis itu sudah terlanjur Di-screenshoot oleh sumber (17/11, Pkl. 17.34 WIT). 

Kedua, nomor kontak awak media ini pun disinyalir telah diblokir oleh RT (Sabtu, 18/11). Bahkan, demi perimbangan pemberitaan lanjutan, para sumber telah beberapa kali berusaha membangun komunikasi dengan Bos Bulog Saumlaki itu melalui telepon seluler, whatsapp, hingga kunjungan langsung ke Gudang (Rabu, 22/11, Pkl 13.35 WIT). Namun, semua usaha itu sia - sia hingga berita ini dinaikan. 

Rasionalisasi.Parahnya lagi, keterangan RT terkait beras Bulog yang dipertanyakan kejelasannya dalam pemberitaan media ini sebelumnya sengaja dimuat terpisah dalam salah satu media cyber (berita online) oleh oknum wartawan lain.

 Terhadap fakta ini, RT sengaja menghindari proses investigasi media ini dan terkesan tidak transparan. Juga, muncul pertanyaan, apakah Bos Bulog Saumlaki ini sudah membangun relasi ekslusif dengan media online tertentu? Juga, apakah awak media cyber lain itu cukup menguasai kode etik jurnalistik?

 Sejumlah Tanya?

Mengapa beras bulog dibiarkan menumpuk di gudang sejak Senin lalu (13/11) hingga saat inj? Apakah kemiskinan ekstrim di Tanimbar tidak dilihat sebagai bencana sosial - ekonomi? Atau, apakah rentang waktu tersebut sengaja diciptakan demi memberi kesempatan kepada pengusaha besar lain? Ataukah ada faktor penyebab lain menyongsong tahun politik? 

Atas nama ribuan masyarakat miskin di Tanimbar saat ini maka kami mohon kepada Budi Waseso selaku Direktur Utama Bulog dan Musdalifah Machmud selaku Plh. Ketua Dewan Pengawas di Jakarta agar segera memberikan teguran serius kepada Ronal Tahilatu yang masih bertugas di Bumi Duan - Lolat ini. 

(Red-HY)

Editor : Investigasi Mabes
Tag: