Pemda Kepulauan Tanimbar abaikan 800an mahasiswa Ekonomi Lemah

Pemda Kepulauan Tanimbar abaikan 800an mahasiswa Ekonomi Lemah
Pemda Kepulauan Tanimbar abaikan 800an mahasiswa Ekonomi Lemah

InvestigasiMabes.com | Tanimbar -  Pendidikan merupakan bagian terpenting untuk memajukan sumber daya manusia sehingga dapat mendorong pembangunan berkelanjutan bangsa terkhusus daerah. 

Proporsi pemerataan penyaluran bantuan pendidikan atau Beasiswa Daerah perlu dikaji kembali dan dilakukan secara rasional dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian masyarakat Tanimbar yang tengah dilanda kemiskinan ekstrim akibat sejumlah persoalan seperti Korupsi Kolusi dan Nepotisme yang melilit negeri bertajuk Bumi Duan Lolat itu belakangan ini. 

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Lelemuku Saumlaki Piter Titirloloby, S.Pd., M.Pd kepada awak media ini di Saumlaki Sabtu, 6/7/2024 mengungkapkan kekesalannya; "66 mahasiswa yang mengenyam pendidikan di Akamigas Cepu rata-rata berlatar belakang ekonomi mapan justru diberikan bantuan pendidikan dengan nilai fantastis, sementara 800an mahasiswa UNLESA dengan latar belakang ekonomi lemah yang sangat pantas dan layak untuk diberikan bantuan pendidikan oleh Pemerintah Daerah malah diabaikan begitu saja, apakah peradaban Tanimbar ke depan hanya tergantung dan ditentukan oleh mereka yang bersekolah di Akamigas Cepu ?". Ungkap Titirloloby. 

"Pemerintah daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar beberapa waktu lalu melakukan pertemuan bersama PEM Akamigas untuk mencari solusi bagi 66 mahasiswa Tanimbar yang telah mengikuti studi jenjang Strata 1 di Cepu.Terdapat 15,9 Miliar hutang Pemda Kepulauan Tanimbar berupa biaya pendidikan kepada PEM Akamigas dan telah di tetapkan dalam APBD sebesar 3 Miliar, untuk 3 Miliar itu mampu untuk mengkaver angkatan 2019 dan 2020, sementara terdapat kurang lebih 800an mahasiswa UNLESA berasal dari keluarga ekonomi lemah yang terpaksa tidak dapat melanjutkan pendidikan atau tidak mampu melakukan registrasi ulang karena terkendala biaya pendidikan justru luput dari perhatian Pemerintah Daerah", terang Titirloloby.

  

"Pemerintah Daerah Kepulauan Tanimbar hari ini berhutang Rp. 15 Miliar untuk 66 orang mahasiswa Tanimbar yang adalah anak-anak Tanimbar yang bukan berlatar belakang ekonomi lemah di Cepu sementara menelantarkan kurang lebih 800an orang mahasiswa Tanimbar yang juga anak-anak Tanimbar yang diketahui pasti dan meyakinkan berlatar belakang ekonomi lemah, boleh di katakan 99% mahasiswa UNLESA berasal dari kelurga tidak mampu", tambah Titirloloby penuh keprihatinan. 

"Menghabiskan 15 Milyar untuk 66 mahasiswa akamigas di Cepu bukan anggaran yang kecil dengan rasio pembagian anggaran fantastis dengan 800an orang mahasiswa UNLESA per semester hanya membutuhkan biaya 2,4 Miliar. Tentu ada skala prioritas dengan skema mereka yang lulus di Akamigas akan turut bekerja di Migas,Tetapi faktanya tidak semuda itu. Coba telusuri dengan baik berapa banyak orang mahasiswa akamigas yang berasal dari keluarga tidak mampu? Ataukah sebagian besar dari mereka berasal dari lingkaran keluarga pejabat daerah ?", tanya Pemuda yang juga merupakan seorang akademisi UNLESA itu. 

"UNLESA turut memberikan sumbangsi untuk pengembangan IPM di daerah dan 800an orang mahasiswa yang saat ini terkendala pembiayaan studi bukan jumlah yang kecil. Pemda Kepulauan Tanimbar harus benar-benar memberikan solusi secara proporsional dengan menghitung potensi SDM secara Kuantitatif dan kualified bukan hanya sebatas berpikir tentang penyelesaian hutang. Mungkin ada yang berpendapat kalau urusan pendidikan tinggi bukan merupakan bagian dari Pemerintah Daerah tetapi Pemerintah Pusat, lantas mengapa Pemerintah Daerah bersih keras terobos untuk mengembangkan pendidikan tinggi di luar daerah dengan beasiswa Pemda bagi mahasiswa Akamigas, sementara membiarkan ratusan mahasiswa yang berada di Tanimbar yang sudah pasti akan mengabdi di Tanimbar dari berbagai aspek keilmuan justru tidak pernah tersentuh dengan bantuan biaya pendidikan atau beasiswa Pemda ?", Tutur akademisi muda berbakat itu. 

"Jangan berpikir untuk membantu UNLESA karena kami sudah terbiasa untuk mandiri dan kuat dengan pengelolaan pendidikan tinggi oleh YPT-RLS, tetapi bantulah generasi muda Tanimbar berekonomi lemah yang saat ini sedang kuliah di UNLESA", tegas Titirloloby. 

"Sudah waktunya Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar dibawah kepemimpinan Pj. Bupati Piterson Rangkoratat, SH memberikan perhatian dan kepedulian bagi mahasiswa dengan latar belakang ekonomi lemah karena mereka merupakan bagian dari masyarakat Tanimbar juga mereka merupakan aset terbesar negeri ini dan prestasi mereka sangat membanggakan masyarakat Tanimbar, Mengharumkan Nama Besar Tanah Leluhur Tanimbar di Kanca Nasional dan Internasional seperti saat ini kedua mahasiswa kita Albertus Agung PS. MS. Ivakdalam dan Melita Fina Sobalely yang lolos dalam Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) wilayah 3 yang akan mewakili UNLESA dan LLDIKTI Wil XII, artinya Masyarakat Tanimbar melalui UNLESA memiliki DUTA yang akan dikirim ke ajang bergengsi KDMI Tingkat Nasional, dan ini bukan prestasi yang diperoleh dengan mudah. Ratusan mahasiswa UNLESA akan kembali ke jalan aspirasi untuk menyampaikan kepentingan mereka yang terabaikan", pungkas Titirloloby mengakhiri pembicaraannya. (IM. 125).

Editor : Investigasi Mabes
Tag: