investigasimabes.com - Hiperkolesterolemia atau kolesterol tinggi merupakan suatu keadaan dimana jumlah kolesterol pada aliran darah melebihi batas normal.
Jika tidak ditangani dengan cepat, kadar kolesterol yang tinggi bisa memicu berbagai masalah kesehatan, antara lain serangan strok dan penyakit pada jantung.
Karena itu, kadar kolesterol tinggi bisa mengakibatkan pengerasan atau penumpukan plak di dalam pembuluh darah yang menuju ke kaki, perut, serta lengan. Keadaan tersebut disebut dengan penyakit arteri ekstremitas perifer (AEP).
Maka dari itu, minimal seseorang harus mengenal dan memahami beberapa tanda kolesterol tinggi, di antaranya dapat dirasakan ketika sedang berjalan kaki.
Tanda-tanda kolesterol tinggi ketika sedang berjalan kaki
Berikut adalah setidaknya tujuh tanda-tanda kolesterol tinggi yang mungkin terasa ketika sedang berjalan kaki:
1. Sakit pada kaki
Gejala permulaan dari kadar kolesterol yang tinggi dalam sistem peredaran darah bisa berupa rasa sakit di kaki akibat kondisi bernama PAD. Penyakit arteri perifer (PAD) ini memiliki hubungan erat dengannya.
Dikutip dari TimesofIndia, Saat kolesterol mengendap, pembuluh darah menyempit sehingga aliran oksigen menuju otot berkurang.
Ini mengakibatkan rasa nyeri di area betis, paha, dan bokong, terlebih ketika sedang berjalan atau mendaki anak tangga.
Umumnya, rasa nyeri akan mereda seiring istirahat lantaran permintaan oksigen pada otot menurun.
Jika keadaan itu bertambah buruk, rasa nyeri bisa terasa meski saat istirahat.
2. Kesemutan
Aliran darah yang tersumbat bisa mengakibatkan perasaan kesemutan atau kebas di kaki serta jarinya, terlebih saat melaksanakan aktivitas gerak seperti berjalan.
Sebab itu, saraf memerlukan aliran darah yang mengandung oksigen agar dapat berfungsi dengan baik. Apabila pengendapan kolesterol membuat pembuluh arteri menjadi sempit atau tersumbat, maka performa saraf pun ikut terganggu.
Apabila tidak ditangani, keadaan tersebut bisa berubah menjadi mati rasa permanen, kerusakan syaraf, atau dalam kasus ekstrem bisa menyebabkan kematian sel jaringan.
3. Kram
Sakit kejang di kaki atau lengan bisa menandakan bahwa aliran darah seseorang terganggu dan tidak berjalan dengan baik.
Perasaan kesemutan atau rasa sakit tersebut terjadi karena kurangnya aliran darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan otot saat seseorang beraktivitas secara fisik.
Semakin buruk pengerasan atau penyumbatan pada pembuluh darah, seseorang mungkin merasakan nyeri tersebut setelah berjalan sebentar atau bahkan ketika sedang istirahat.
4. Dingin ekstrem
Aliran sirkulasi yang tidak baik karena kadar kolesterol tinggi dapat membuat satu tungkai atau bagian bawah kaki menjadi terasa lebih sejuk dibandingkan dengan yang lain, terutama ketika atau sesudah berjalan-jalan.
Ini terjadi karena pembuluh arteri menyempit menghambat peredaran darah, yang pada gilirannya mengurangi penyebaran panas.
Sebagai akibatnya, kaki itu bisa terasa jauh lebih sejuk ketika di sentuh dibandingkan dengan bagian tubuh yang lain.
Perasaan dingin yang berkelanjutan adalah indikasi dari Penyakit Arteri Perifer stadium akhir dan harus ditangani dengan serius karena bisa menjadi pertanda adanya sumbatan pada pembuluh darah secara meluas.
5. Kelemahan otot
Pembuluh darah yang menjadi sempit akibat kolesterol bisa mengakibatkansakit pada otot-otot bagian kaki orang tersebut.
Keadaan tersebut ditandai dengan ketidakmampuan untuk berjalan dengan mudah, menjaga keseimbangan tubuh, atau sekadar berdiri dalam jangka waktu panjang.
Berikut ini adalah penjelasan bahwa otot-otot selalu mengonsumsi oksigen dan gizi yang dibawa oleh peredaran darah. Jika suplai tersebut kurang atau tidak adekuat, maka kinerja mereka bisa terpengaruh.
Dengan berlalunya waktu, jika sirkulasi darah tidak baik terjadi secara kontinu, hal ini bisa mengakibatkan penyusutan otot. Akibatnya, seseorang menjadi lebih mudah tersandung dan cenderung aktif dengan gerakan yang lebih sedikit, khususnya pada lansia atau mereka yang mempunyai beberapa faktor risiko tambahan.
6. Perubahan corak di bagian kaki
Pergantian warna pada kaki atau betis yang bisa jadi lebih cerah atau berwarna ungu kebiruan dapat menandakan adanya kadar kolesterol yang tinggi.
Warnanya terbentuk karena pengurangan aliran darah yang mengandalkan oksigen yang sampai ke kulit, akibat langsung dari peredaran darah tidak baik yang diakibatkan oleh pembekuan plak kolesterol.
Saat pembuluh darah mengalami penyempitan, aliran oksigen menjadi kurang cukup, sehingga kulit bereaksi dengan berubahnya warna.
Dalam situasi yang parah, kondisi tersebut bisa mengakibatkan sindrom kebiruan, di mana jaringan tubuh akan tampak berwarna biru akibat kurangnya pasokan oksigen.
Jika perubahan warnanya tetap berlangsung atau justru bertambah buruk, bisa saja menandakan adanya iskemia tungkai kritis, yaitu komplikasi serius dari penyakit arteri perifer (PAD), yang mengharuskan penanganan medis darurat.
Maka dari itu, melakukan pemeriksaan kaki secara preventif serta deteksi awal penyakit amatlah vital guna mencegah dampak negatif yang lebih serius.
7. Sakit di dada ketika sedang berjalan
Merasakan sakit di dada atau tidak nyaman saat bergerak bisa jadi merupakan indikasi adanya kadar kolesterol yang tinggi.
Kadar kolesterol LDL yang tinggi bisa memicu aterosklerosis, yaitu keadaan dimana pembuluh darah menjadi sempit karena adanya pengendapan plak. Kondisi tersebut berpotensi mengarah pada angina, rasa sakit di dada yang timbul saat otot jantung kurang menerima aliran darah yang cukup.
Apabila Anda mengalami rasa tertekan, sesak napas, atau sakit di area dada ketika sedang berjalan, penting bagi Anda untuk langsung berkonsultasi dengan dokter guna mencegah kemungkinan kondisi medis yang parah.
Penyebab kolesterol tinggi
Gaya hidup serta faktor keturunan atau genetik berperan dalam mengakibatkan kondisi kolesterol yang tinggi.
Dilansir dari ClevelandClinic, faktor gaya hidup meliputi:
- Merokok dan penggunaan tembakau
- Terlalu cemas atau tak dapat mengendalikannya
- Minum alkohol
- Tidak banyak beraktivitas fisik
- Polanya makanan dengan kandungan tinggi dapat menyebabkan kadar kolesterol meningkat.
Editor : Investigasi Mabes