InvestigasiMabes.com | Cirebon, 6 Juli 2025 -Bulan Sura atau Muharram merupakan salah satu bulan yang banyak mengandung kemuliaan keutamaan dan mistisme dalam tradisi Islam di Indonesia khususnya di Keraton Kanoman Cirebon Sebagai bulan pertama dalam mengawali tahun baru, baik tahun baru Islam dan tahun baru Saka Aboge Keraton, bulan Sura menjadi waktu khusus dilakukanya acara-acara ritual yang erat kaitanya dengan peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Islam dan kosmologi dalam hitungan weton dan primbon. Tepatnya pada tanggal 10 Sura, Keraton Kanoman senantiasa melakukan acara ritua Selametan Bubur Sura di Bangsal Paseban Keraton Kanoman Cirebon.
Acara ritual selametan Bubur Sura ini sudah dilakukan sejak masa Sunan Gunung Jati (Wal Sanga) dan sudah teruji oleh lintasan zaman dan peradaban. Untuk itulah, Keraton Kanoman sebaga pewaris tahta dan tradisi ritual suci peringatan hari besar Islam yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati tetap konsisten dan konsekwen melakukan apa yang telah dilakukan oleh leluhur (Sunan Gunung Jati). Acara ritual Bubur Sura yang dilakukan setiap tanggal 10 Sura ini tidak lepas dari peristiwa-
peristiwa besar dalam sejarah Islam antara lain : Taubatnya Nabi Adam AS kepada Allah,
Berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS, selamatnya Nabi Ibrahin AS dari api hukuman Raja Namrud, Nabi Yusuf AS dibebaskan dari penjara, Nabi Ayyub disembuhkan dari penyakit, Nab Musa dan umatnya diselamatkan dari kejaran Fir’aun terjadi pada bulan asyura, sampai pada terbunuhnya Sayyidina Husen bin Ali (cucunda Nabi Muhammad SAW/Peristiwa Karbala) terjad pada tanggal 10 Sura. Peristiwa bersejarah ini kemudian diperingati dalam sebuah tradisi yang disebut
Bubur Sura oleh para walisanga khususnya Sunan Gunung Jati, kemudian diteruskan oleh kami
sebagai anak cucu keturunan Sunan Gunung Jati (keluarga besar Kesultanan Kanoman) sebaga pewaris tradisi dan budaya Keraton Cirebon.
Selain itu, peringatan asyura juga mempunyai keutamaan untuk belajar mengeluarkan shodakoh seperti tanaman hasil bumi atau suro pendeman, seperti; kacang-kacangan, umbi-umbian, kelapa, buah-buahan menjadi bahan pokok pembuatan bubur suro. Semua bahan tersebut adalah swadaya dari masayarakat yang mereka punya untuk bahan-bahan pembuatan Bubur Sura.
Sebagai penanda dibikinlah Bubur Sura, yang terdiri dari:
A. Bubur beras /Bubur Abang Bubur Putih : Beras, air, santan, salam, sereh, klungsu, pisang saba
½ mateng, tales, uwi, gembili, gula merah dan garam.
B. Santen kelapa : Kelapa parud, air, daun pandan dan garam.
C. Lauk-Pauk antara lain :
1. Sambel goreng
2. Dendeng daging sapi suwir 10. Dadar sisir
3. Abon ayam 11. Kelapa sisir goreng suwir 12. Kacang tanah goreng
4. Ikan asin jambal asep 13. Kacang gendolo goreng
5. Ikan asin ebi 14. Buah delima pretel
6. Oso (srundeng kuning) 15. Buah jeruk gede suwir
7. Bawang goreng 16. Timun sisir
8. Tempe goreng 17. Cabe merah sisir
9. Bergedel 18. Daun kemangi
Bubur Sura dan lauk-pauknya disajikan dalam sebuah takir, yaitu wadah yang terbuat dari daun pisang klutuk berbentuk perahu sebagai pengingat Bahtera Nabi Nuh. Selametan Bubur Sura di pimpin oleh Gusti Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran sebagai Patih atau wakil Sultan, mewakili Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin sebagai Sultan Kanoman XII, dengan diiringi para Family, Penghulu, Mager Sari, Abdi Dalem dan masyarakat umum.
Acara ini diawali dengan prosesi masak-masak oleh rombongan abdi dalem Panca Pitu, kemudian prosesi penyajian Bubur Sura di Bangsal Jinem Keraton Kanoman pukul 08.00 sampai menjelang dzuhur, lalu kemudian persiapan acara ritual dengan berkumpulnya para Family Keraton sebari menunggu kedatangan Sultan Raja Muhammad Emirudin, Sultan Kanoman XII atau Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran, Patih Kesultanan Kanoman, lalu kemudian pelaksanaan acara Ritual Selametan Bubur Sura dilaksanakan di Bangsal Paseban Keraton, Kesultanan Kanoman Cirebon pada waktu ba’da Ashar sebagai waktu awal pergantian hari atau tanggal.
KaperwilJabar/Suherman
Editor : RedakturSumber : Team