Petani Kopi Lampung Barat Gelisah, Harga Terus Merosot di Tengah Panen Raya

Petani Kopi Lampung Barat Gelisah, Harga Terus Merosot di Tengah Panen Raya
Petani Kopi Lampung Barat Gelisah, Harga Terus Merosot di Tengah Panen Raya

InvestigasiMabes.com. | Lampung Barat, 14 Juli 2025 — Para petani kopi di Kabupaten Lampung Barat mengaku kecewa dan gelisah akibat terus merosotnya harga jual kopi di tengah masa panen raya yang baru saja dimulai. Harga kopi yang sebelumnya sempat menyentuh angka Rp70.000 per kilogram, kini turun drastis hingga berada di kisaran Rp45.000 per kilogram.

Penurunan harga yang terjadi secara bertahap dari hari ke hari ini menimbulkan keresahan di kalangan petani, terutama karena tidak sebanding dengan biaya perawatan dan operasional kebun yang semakin tinggi.

Sawaldi, seorang petani kopi asal Kecamatan Kebun Tebu, menyampaikan kekecewaannya saat ditemui awak media. Ia menuturkan bahwa biaya produksi, seperti upah tenaga kerja, pembelian pupuk, herbisida, hingga fungisida terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun, di sisi lain, harga jual biji kopi justru semakin turun.

“Kami para petani merasa sangat terpukul. Biaya perawatan kebun semakin mahal, tapi harga jual kopi kian turun. Ini jelas mengganggu ekonomi kami,” ujar Sawaldi.

Menurutnya, jika kondisi ini terus berlanjut tanpa ada intervensi dari pemerintah atau pihak terkait, maka dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya petani kopi yang menjadi tulang punggung perekonomian di wilayah Lampung Barat.

Petani berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga kopi di tingkat petani. Mereka juga meminta agar ada dukungan yang lebih nyata, baik berupa kebijakan harga dasar maupun bantuan subsidi input pertanian.

“Harapan kami sederhana: harga kopi bisa kembali naik dan menyejahterakan petani. Kami hanya ingin hasil kerja keras kami dihargai secara layak,” tambah Sawaldi.

Lampung Barat dikenal sebagai salah satu sentra produksi kopi robusta terbesar di Provinsi Lampung. Namun fluktuasi harga yang tidak menentu dari tahun ke tahun terus menjadi tantangan utama bagi keberlanjutan sektor perkebunan kopi rakyat di daerah ini.

Editor : Redaktur
Sumber : Team