InvestigasiMabes.com l Ternate, 5/8/2025 -Dalam khazanah bahasa dan budaya Gorontalo, kata *“Dupapa atau Dupa-Dupapa”* memiliki makna yang sangat dalam. Dalam bahasa lo mongopanggola, *dupapa* berarti “di bawah dari yang terbawah” dapat juga dimaknai molumboyoto. Namun, makna ini tidak berhenti pada pengertian posisi diri atau hierarki sosial/identitas semata. Dalam konteks spiritualitas masyarakat Gorontalo, *dupapa* merupakan simbol kerendahan hati yang paling hakiki, yang didalamnya terdapat Sabar, Ikhlas, Syukur, serta kesadaran total akan kefanaan diri di hadapan Allah SWT.
Mongopanggola dan Masyarakat Gorontalo memandang *dupapa* sebagai keadaan ruhani atau perjalanan yang dijalankan dengan konsisten oleh seseorang yang telah melepaskan segala bentuk keakuan, kesombongan, dan kemelekatan duniawi. Ia adalah cerminan dari insan yang telah meluruh dalam kehinaan diri untuk meraih kemuliaan di sisi Sang Pencipta. Filosofi ini berakar kuat dalam nilai-nilai adat dan ajaran Islam yang menyatu dalam budaya Gorontalo, seperti prinsip untuk selalu berserah kepada kehendak Ilahi.
Dalam perjalanan spiritual (suluk), posisi dupapa menjadi gerbang penting menuju keterlekatan dalam makrifat kepada Allah SWT. Ia mengajarkan bahwa untuk mencapai puncak pengenalan terhadap *Allah SWT*(makrifatullah), seseorang harus terlebih dahulu turun serendah-rendahnya dalam kerendahan batin. Sebab dalam titik nadir itulah, cahaya Ilahi paling mungkin masuk dan menyinari hati yang bersih dari ego.
Dengan demikian, Dupapa bukan sekadar kata, tetapi merupakan falsafah hidup, cermin sikap ruhani, dan landasan tasawuf dalam tradisi Gorontalo. Ia mengajarkan bahwa kekuatan tertinggi bukanlah pada posisi atau kuasa, tetapi pada kesanggupan untuk meniadakan diri dalam lautan keagungan-NYA.
InvestigasiMabes.com(Ruliyanto syahrain)
Editor : Redaktur