InvestigasiMabes.com | Banyuwangi - Ada yang benar-benar aneh di Banyuwangi.
Proyek kecil jenis perbaikan pintu air (dam) yang nilainya hanya sebatas pekerjaan ringan, ternyata menelan anggaran hingga Rp210 juta lebih.
Lebih janggal lagi, papan proyeknya tiba-tiba hilang, seolah ada sesuatu yang harus disembunyikan dari mata publik.
Sebelum papan itu raib, tertulis nama CV Jaya Abadi sebagai pelaksana . Namun setelah saya telusuri lewat data resmi LPJK, nama CV tersebut memang ada, tapi seluruhnya beralamat di luar Banyuwangi. Tidak satu pun yang benar-benar berdomisili di daerah ini.
Lalu muncul pertanyaan mendasar:
Mengapa proyek kecil seperti pemasangan pintu dam saja harus menggunakan CV dari luar daerah?
Apakah kontraktor lokal Banyuwangi sudah tidak dianggap mampu lagi?
Lebih ironis, jika satu set pintu air kecil bisa menghabiskan dana hingga ratusan juta, publik pantas curiga: apakah papan proyek yang hilang itu sengaja “disingkirkan” untuk menutupi ketidakwajaran tersebut?
Sebab dalam praktik transparansi anggaran, papan proyek bukan sekadar formalitas. Ia adalah bentuk keterbukaan dan tanggung jawab moral kepada rakyat.
Kita tahu, proyek bersumber dari uang publik. Maka setiap rupiah yang dibelanjakan wajib bisa dipertanggungjawabkan secara terbuka. Tapi kenyataannya, hilangnya papan proyek dan keterlibatan CV luar daerah dalam pekerjaan kecil justru menimbulkan aroma tak sedap.
Saya, sebagai bagian dari masyarakat Banyuwangi, hanya berharap agar Dinas PU Pengairan dan Inspektorat tidak berpura-pura buta.
Periksa ulang proyek itu, buka ke publik siapa pelaksananya, dan pastikan setiap pekerjaan benar-benar sepadan dengan nilai anggaran.
Karena kalau satu pintu air kecil saja bisa menghabiskan Rp210 juta, maka yang bocor bukan hanya air — tapi juga rasa percaya rakyat terhadap pemerintahnya.
—
Oleh: Yanto
Lembaga Pemberdayaan dan Kreativitas Masyarakat Indonesia (LPKMI)
Editor : RedakturSumber : Yanto LPKMI