InvestigasiMabes.com l Gorontalo – Suasana H-1 Lebaran Ketupat di Provinsi Gorontalo tahun ini menyajikan gambaran yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dua ajang tradisional yang selama ini menjadi jantung dari kegembiraan perayaan hari raya umat Islam di wilayah ini – pacuan kuda dan karapan sapi di Desa Yosonegoro, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo – tidak lagi mewarnai riuh pikuk yang biasanya menarik jutaan pengunjung dari berbagai penjuru Provinsi Gorontalo bahkan daerah sekitarnya.
Dari pantauan tim awak media investigasi Mabes yang melakukan peninjauan langsung ke lokasi di Desa Yosonegoro Kecamatan Limboto Barat Kabupaten Gorontalo hari ini Jumat, 28/3/2025,
Kawasan yang biasanya dipenuhi tenda pedagang, stan kuliner khas daerah, serta area parkir yang penuh sesak hingga ke pinggir jalan, kini terlihat sepi dan hanya dihiasi beberapa tanaman hias yang masih tersisa dari perayaan tahun lalu. Tidak ada tanda-tanda persiapan besar-besaran untuk menggelar acara yang selama ini menjadi magnet utama wisatawan dan masyarakat lokal.
Lahan yang biasanya digunakan sebagai arena pacuan kuda dan lintasan karapan sapi tampak terbuka luas tanpa ada aktivitas apapun. Beberapa petugas keamanan yang ditemui di lokasi menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada instruksi resmi terkait pelaksanaan kedua acara tersebut, yang selama ini selalu dijadwalkan menjelang dan pada hari H Lebaran Ketupat.
Salah satu indikator jelas perubahan suasana perayaan tahun ini terlihat dari kondisi lalu lintas di berbagai titik strategis di Gorontalo. Seperti yang diketahui, mulai H-2 Lebaran Ketupat tahun-tahun sebelumnya, kepadatan kendaraan bermotor sudah mulai terasa signifikan di jalan-jalan utama yang menghubungkan Kabupaten Gorontalo dengan wilayah lain, termasuk arah Desa Yosonegoro.
Kondisi serupa juga terlihat di simpang empat Bandara Djalaludin Gorontalo, tepatnya di kawasan Tugu Menumen BJ Habibie. Titik ini yang selama ini dikenal sebagai salah satu titik kemacetan terparah pada masa Lebaran Ketupat – dengan waktu kemacetan yang bisa mencapai berjam-jam lamanya akibat arus masuk dan keluar pengunjung yang ingin menyaksikan acara tradisional kini beroperasi dengan lancar tanpa ada hambatan apapun. Petugas polisi lalu lintas yang ditempatkan di lokasi menyampaikan bahwa volume kendaraan yang lewat jauh di bawah rata-rata kondisi Lebaran Ketupat biasanya.
Beberapa warga juga menyampaikan harapan bahwa meskipun tradisi ikonik ini tidak digelar tahun ini, pemerintah daerah akan menyediakan alternatif acara yang bisa tetap menjaga semangat kebersamaan dalam merayakan Lebaran Ketupat. "Kita harap ada acara lain yang bisa menggantikan, karena pacuan kuda dan karapan sapi bukan hanya sekadar hiburan, tapi juga bagian dari identitas budaya kita di Gorontalo," ujar Hamid Aday salah seorang warga Desa Tunggulo.
"Meskipun suasana perayaan terasa lebih tenang Kepolisian Resort Limboto mengklaim melalui Kapolsek Limboto IPTU Darmawan Hamzah SH telah mempersiapkan berbagai fasilitas umum dan layanan masyarakat untuk mendukung kelancaran perayaan Lebaran Ketupat. Ini termasuk peningkatan jumlah petugas kesehatan di puskesmas, penambahan stok bahan makanan pokok di pasar tradisional, serta penguatan patroli keamanan di berbagai titik rawan keamanan dan rawan kecelakaan bahkan pengamanan Ratusan Personil Anggota Polres Limboto disepanjang ruas jalan Gorontalo outo ringrood dan di ruas jalan Limboto -Isimu" ungkap Kapolsek disela sela kesibukannya
IPTU Darmawan juga menegaskan bahwa Polres Limboto telah menyiapkan 21 beat posko pengamanan arus lalulintas lebaran ketupat tahun ini, "Kami telah mendirikan 21 beat Posko pengamanan arus lalulintas" tegasnya
Bahkan untuk menjaga kemacetan berjam jam maka pihak Polres limboto melakukan rekayasa arus lalulintas satu arah, "dari Kota Gorontalo, telaga dan limboto melewati Gorontalo outo ringrood hingga simpang empat botumoputih Tibawa kemudian melewati tugu ta
Editor : Investigasi MabesSumber : Tim