Ironi Penghargaan Nasional dan Fakta Lapangan di Banyuwangi

Ironi Penghargaan Nasional dan Fakta Lapangan di Banyuwangi
Ironi Penghargaan Nasional dan Fakta Lapangan di Banyuwangi

InvestigasiMabes.com | Banyuwangi - Rilis Opini – Yanto, Aktivis LPKMI

Pemberian penghargaan kinerja tingkat nasional kepada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi patut dipertanyakan secara serius. Di tengah berbagai klaim capaian dan prestasi yang digaungkan, realitas di lapangan justru menunjukkan adanya ketimpangan antara penilaian administratif dan kondisi faktual pembangunan.

Salah satu contoh yang mencolok adalah mangkraknya pembangunan Masjid Pemda yang hingga kini belum juga rampung. Proyek yang seharusnya menjadi simbol pelayanan publik dan spiritual masyarakat itu justru terkesan terbengkalai tanpa kejelasan progres dan penyelesaian.

Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah indikator penilaian penghargaan nasional benar-benar mencerminkan kondisi riil di daerah? Ataukah hanya sebatas formalitas berbasis laporan administratif yang belum tentu valid secara substansi?

Sebagai aktivis yang terus mengawal kepentingan publik, saya menilai bahwa penghargaan semacam ini berpotensi menyesatkan opini masyarakat jika tidak disertai evaluasi menyeluruh terhadap realisasi program di lapangan. Pemerintah daerah seharusnya lebih fokus pada penyelesaian proyek-proyek prioritas dan kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar mengejar pengakuan simbolik.

Lebih jauh, kondisi ini juga berisiko menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintah. Ketika masyarakat melihat adanya ketidaksesuaian antara prestasi yang dipublikasikan dengan kondisi nyata, maka legitimasi pemerintah pun dipertaruhkan.

Kami dari LPKMI mendorong adanya transparansi dan audit independen terhadap proyek-proyek strategis daerah, termasuk pembangunan fasilitas publik seperti masjid Pemda. Jangan sampai penghargaan yang diraih justru menutupi persoalan mendasar yang belum terselesaikan.

Penghargaan sejatinya adalah refleksi dari kinerja nyata, bukan sekadar pencitraan. Jika fakta di lapangan masih menunjukkan banyak pekerjaan rumah yang belum selesai, maka sudah seharusnya dilakukan introspeksi, bukan perayaan.

— Yanto

Aktivis LPKMI

Editor : Redaktur
Sumber : Yanto LPKMI