Pedagang Keluhkan Kondisi Pasar Minggu Tilamuta: Atap Bocor, Banjir Saat Hujan, dan Berbagai Pungutan Jadi Sorotan

Pedagang Keluhkan Kondisi Pasar Minggu Tilamuta: Atap Bocor, Banjir Saat Hujan, dan Berbagai Pungutan Jadi Sorotan
Pedagang Keluhkan Kondisi Pasar Minggu Tilamuta: Atap Bocor, Banjir Saat Hujan, dan Berbagai Pungutan Jadi Sorotan

InvestigasiMabes.com l Boalemo, 31/5/2026 – Kondisi Gedung Pasar Minggu yang berada di Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, kembali menjadi sorotan para pedagang dan masyarakat. Pasalnya, hingga saat ini sebagian besar bangunan pasar dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah, terutama pada bagian atap yang bocor di berbagai titik. Para pedagang menilai belum ada langkah perbaikan yang signifikan dari pihak terkait meskipun keluhan telah disampaikan berulang kali.

Menurut sejumlah pedagang, saat hujan turun kondisi pasar menjadi sangat memprihatinkan. Air hujan masuk ke dalam gedung dan menggenangi area jual beli. Bahkan genangan tersebut sering menyebabkan lantai menjadi licin dan membahayakan pengunjung maupun pedagang.

Salah seorang pedagang pisang yang berjualan di Pasar Minggu Tilamuta, Agustin Tahir, mengaku sudah bertahun-tahun menghadapi kondisi tersebut tanpa adanya perubahan yang berarti.

“Kami hanya bisa pasrah dengan keadaan seperti ini. Kalau hujan, pasar banjir, air masuk dari atap yang bocor. Pengunjung sering tergelincir karena lantai licin. Kami sudah berkali-kali menyampaikan keluhan kepada pihak terkait, tetapi sampai sekarang belum ada respons yang nyata,” ujar Agustin saat diwawancarai.

Menurutnya, para pedagang merasa kecewa karena berbagai pungutan tetap berjalan, sementara kondisi fasilitas pasar yang menjadi tempat mereka mencari nafkah justru tidak mendapatkan perhatian yang memadai.

Para pedagang mengungkapkan bahwa terdapat berbagai jenis biaya yang harus mereka bayarkan, mulai dari Rp3.000, Rp5.000, hingga Rp10.000 untuk sejumlah keperluan tertentu. Selain itu, ada pula pungutan mingguan yang disebut mencapai Rp50.000 bagi sebagian pedagang.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan di kalangan pedagang mengenai penggunaan dana yang dipungut tersebut, mengingat perbaikan fasilitas pasar hingga kini belum terlihat.

Agustin berharap Pemerintah Kabupaten Boalemo maupun instansi terkait dapat turun langsung meninjau kondisi pasar dan memberikan solusi nyata bagi para pedagang.

“Kami tidak meminta yang berlebihan. Kami hanya ingin tempat berjualan yang layak dan aman bagi pedagang maupun pembeli. Semoga pemerintah daerah dan dinas terkait bisa memperhatikan kondisi kami,” tambahnya.

Tidak hanya persoalan gedung pasar, keluhan juga mengenai kilo meter listrik pasar dijadikan bisnies. Penjual pakai satu mata lampu dikenakan biaya sebesar Rp10.000 per lima jam saat berjualan di lokasi tersebut.

Meski demikian, sejumlah pedagang berharap adanya transparansi mengenai dasar hukum pungutan dan pemanfaatan dana yang dikumpulkan dari para pelaku usaha kecil tersebut.

Masyarakat dan pedagang kini berharap Pemerintah Kabupaten Boalemo, khususnya instansi yang membidangi pengelolaan pasar, dapat segera melakukan evaluasi terhadap kondisi Pasar Minggu Tilamuta. Selain perbaikan sarana dan prasarana, para pedagang juga meminta adanya keterbukaan terkait pengelolaan retribusi dan pungutan yang selama ini diberlakukan.

Dengan kondisi pasar yang menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat Tilamuta, perbaikan infrastruktur dan pelayanan dinilai sangat penting demi menciptakan kenyamanan, keamanan, serta mendukung keberlangsungan usaha para pedagang kecil yang menggantungkan hidupnya dari aktivitas jual beli di pasar tersebut.

InvestigasiMabes.com(Irvan M.)

Editor : Redaktur
Sumber : Team