InvestigasiMabes.com | Jepara - Ada yang berbeda di Jepara Wood Carving Gallery, Sabtu (17/10/2026) pagi hingga siang. Sejumlah pelestari ukir Jepara hadir untuk membimbing secara khusus 17 siswa SMKN 2 Jepara jurusan Kriya Kayu. Ini bukan pelatihan ukir biasa seperti yang sering dilakukan, tetapi dalam rangka memperingati Hari Kebudayaan Nasional.
Hari Kebudayaan Nasional diperingati setiap tanggal 17 Oktober yang secara resmi ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia No. 162/M/2025. Penetapan dilakukan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada tanggal 7 Juli 2025. Penetapan tanggal 17 Oktober memiliki makna historis karena bertepatan dengan penetapan Lambang Negara Garuda Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika pada tanggal 17 Oktober 1951.
Mereka yang menjadi instruktur pada pelatihan khusus ini adalah Rumini, Zuafah, Taskiya, Mustiqotul, Rahma, Arsiti, Erna, Sutarno, Budi Mulyo, dan Ali Afendi. Rumini sempat memberikan bimbingan mengukir peta Indonesia yang sedang dikerjakannya.
“Hari Kebudayaan Nasional ini diperingati setiap tahun untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kebudayaan sebagai fondasi pembangunan karakter bangsa dan penguatan identitas nasional,” ujar Ketua Yayasan Pelestari Ukir Jepara, Hadi Priyanto.
Ia juga menjelaskan, pemilihan siswa SMKN 2 Jepara jurusan Kriya Kayu ini dipilih, karena di tangan merekalah kelak budaya ukir diharapkan dapat dilestarikan.
“Saat ini memang Jepara memiliki seniman ukir hebat. Bahkan dapat disebut maestro. Namun usia mereka sebagian besar sudah di atas 55 tahun. Sementara generasi muda dan anak-anak telah mulai meninggalkan warisan leluhurnya. Padahal seni ukir sejak tahun 2015 telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia,” terang Hadi Priyanto.
Karena itu kehadiran Jepara Wood Carving Gallery ini didedikasikan untuk pusat pelestarian ukir bagi para pelajar mulai PAUD hingga SLTA. “Kami bukan hanya memberikan bekal keterampilan, tetapi juga menanamkan budaya dan sejarah ukir Jepara,” ujar Hadi Priyanto.
Ia juga menjelaskan, pada bulan November ini Yayasan Pelestari Ukir akan mengadakan pelatihan ukir secara gratis kepada 650 orang siswa dan guru. “Kami mendapatkan dukungan dari Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan,” terang Hadi.
Sementara Wakil Ketua Yayasan Peluk Jepara Ali Afendi di samping mengenalkan yel-yel pelestarian ukir Jepara juga memotivasi para peserta untuk menekuni seni ukir.
“Di pundak kalian masa depan ukir Jepara kami serahkan. Karena itu jurusan Kriya Kayu SMKN 2 Jepara harus mendapatkan perlakuan khusus dari para pemangku kepentingan. Sebab jurusan ini berkewajiban menyiapkan maestro ukir 30–40 tahun ke depan,” tegas Ali Afendi.
(Septiana W)
Keterangan Foto:
1. Ketua Yayasan Pelestari Ukir Jepara Hadi Priyanto dan Wakil Ketua Yayasan Peluk Ali Afendi saat memberikan motivasi kepada peserta pelatihan mengukir. Foto: Sutarno
2. Siswa nampak sungguh-sungguh mengikuti sesi pelatihan mengukir yang digelar Yayasan Peluk Jepara dalam rangka memperingati Hari Kebudayaan Nasional tahun 2026. Foto: Tim SMKN 2 Jepara
3. Salah satu peserta mendapatkan kesempatan khusus dibimbing Rumini mengukir peta Indonesia.
Editor : Redaktur