Investigasimabes.com | Kukar - Perusahaan Daerah Air Minum ( PDAM ) Kecamatan Muara Jawa Kabupaten Kutai Kartanegara kini menuai sorotan, pasalnya air hasil olahan PDAM sudah terlihat kotor seperti air lumpur yang berwarna kuning keruh.Berdasarkan informasi beberapa warga Handil kecamatan Muara jawa yang ditemui wartawan Investigasimabes.Com mengatakan, Air PDAM yang dulunya jernih dan bisa untuk dikomsumsi sebagai air minum kini sudah berubah seperti air lumpur yang keruh dan butuh waktu untuk diendapkan agar menjadi jernih namun untuk di komsumsi menjadi air minum itu sudah tidak mungkin, ungkap Lis (37) warga Handil Muara Jawa.
Hal senada juga disampaikan ME (38) warga jalan Delima Handil 2, bahwa air PDAM sebenarnya sudah lama seperti itu, keruh dan kelihatan seperti ada minyak namun tetap digunakan tapi hanya sebatas dipakai mandi, nyuci pakaian atau piring itupun kalau sudah di diamkan lama sampai jernih baru digunakan, jelas ME.Sumber lain juga mengatakan keresahaannya karena menggunakan air PDAM sekarang ini hanya karena terpaksa saja walau keruh dan kebanyakan tidak mengalir, ya mau diapa lagi, namun kami berharap pihak PDAM segera melakukan perbaikan secepatnya karena ini sudah sangat merugikan warga pengguna air PDAM, harapnya.
Pada kesempatan lain Kepala Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Muara Jawa Sahlani saat ditemui di kantornya Kamis 18/01/24 mengakui kalau air sumur bor milik PDAM Muara Jawa yang ada di gunung pasir itu memang sudah tidak layak karena kadar asamnya sudah terlalu tinggi dam sudah tidak bisa juga ditambah kedalamannya sebab takutnya kalau gas yang keluar, jadi sudah sekitar 2 tahun air yang digunakan PDAM adalah air dari sumur bor di Handil 7 yang disedot melalui pipa sepanjang lebih kurang 7 kilo meter.Lebih jauh Sahlani menjelaskan penyebab air kekuningan dan keruh dikarenakan alat serta penyaringan sudah karatan dan semuanya sudah tidak layak lagi digunakan, namun menurutnya pihaknya telah berupaya dengan melaporkan hal tersebut kepada pihak direksi di pusat dan setiap ada kerusakan, dirinya meminta supaya pihak pusat segerah turun tangan, jelasnya.Ditambahkannya bahwa saat ini pihaknya memamfaatkan 4 sumur bor yang kapasitasnya hanya sekitar 70 liter/detik yang jelas tidak mampu memenuhi kebutuhan hingga melakukan sistim pengaliran air secara bergilir, bahkan pihaknya telah melakukan penutupan sementara sekitar 100 meteran pelanggang karena memang sudah tidak bisa airnya mengalir namun bila nantinya sudah normal maka akan dibuka kembali tanpa pungut biaya ungkap Sahlani.Tim investigasiMabes.com.
Editor : Investigasi Mabes