investigasimabes.com - Tiga jasad para korban penembakan yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) segera diberikan kekeluarga mereka setelah proses identifikasi berakhir. Akan tetapi, tiga mayat tersebut langsung dikubur di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan karena kondisinya telah mulai busuk atau terdegradasi.
Menurut data dari Satgas Operasi Damai Cartenz, ketiga mayat tersebut adalah milik individu dengan nama Sahar dari Bombana, Sulawesi Tenggara; Saharudin dari Maros, Sulawesi Selatan; serta Haidil Isdar dari Pangkajene Kepulauan, juga bagian dari Sulawesi Selatan. Direktur RSUD Dekai Glenn M. Nurtanyo mengungkapkan bahwa tim medis telah menyelesaikan identifikasi pada ketiga jenasah ini melalui kerja sama dengan Tim DVI Polri.
"Setelah pemeriksaan DVI selesai dan hasilnya telah diverifikasi, tim kemudian menyerahkan mayat ini secara formal ke keluarga," ujar Glenn pada hari Selasa (15/4).
Meskipun begitu, ia menjelaskan bahwa upacara pemakaman akan segera diselenggarakan di area Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo. Tindakan ini diambil karena kondisi mayat telah mengalami kerusakan parah akibat pembusukan. Oleh karena itu, sangat mustahil untuk mentransfernya dari Yahukimo kembali ke tempat asal mereka masing-masing.
"Jasad pada saat ini telah mengalami proses dekomposisi atau pembusukan, sehingga mustahil untuk dipindahkan atau diudaraikan keluar dari Dekai. Dalam situasi semacam itu, mayat dapat menjadi sumber penyebaran penyakit yang berbahaya," jelas Glenn.
Dia mengabaikan dugaan serta laporan yang menyebutkan bahwa pemakaman di Dekai diselenggarakan dikarenakan pertimbangan finansial. Baginya, keputusan itu sepenuhnya didasari oleh faktor kesehatan guna mencegah potensi penyebaran wabah penyakit. Selain itu juga untuk memastikan kondisi mayat tidak semakin hancur.
"Oleh karena itu, kita perlu jelas tentang hal ini, ini bukan masalah biaya atau faktor-faktor serupa lainnya, tapi semata-mata disebabkan oleh pertimbangan kesehatan untuk menghindari peningkatan risiko penularan infeksi," tegas Glenn.
Editor : Investigasi Mabes