InvestigasiMabes.com | Pusat -
Oleh: Seorang Pencari Cahaya
Redaktur
Malam ini, langit terasa lebih teduh. Waktu seolah melambat saat kalender hijriah kembali berputar, menandai datangnya 1 Muharam 1447 H. Dalam keheningan malam ini, hati mengajak kita untuk merenung lebih dalam — tentang perjalanan, tentang luka dan harapan, tentang hidup yang terus melaju tanpa jeda.
Tahun demi tahun berlalu, dan sering kali kita begitu sibuk mengejar dunia, hingga lupa bahwa setiap pergantian tahun bukan hanya sekadar hitungan hari, melainkan juga peringatan akan semakin dekatnya kita dengan akhir. Maka, 1 Muharam bukan hanya selebrasi, tapi momen kontemplasi.
Hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah bukan hanya peristiwa fisik berpindah tempat. Ia adalah simbol perubahan. Sebuah keberanian untuk meninggalkan zona nyaman menuju ladang perjuangan demi sebuah nilai kebenaran. Pertanyaannya, sudahkah kita hijrah secara batin? Dari gelap menuju terang? Dari ego menuju ketundukan?
Di tengah hiruk-pikuk zaman yang semakin bising oleh ambisi dan hasrat materi, malam 1 Muharam mengajak kita untuk diam sejenak. Menyusuri lorong-lorong jiwa yang mungkin telah lama kita abaikan. Apakah hati ini masih hidup? Apakah nurani kita masih peka?
Marilah kita jadikan tahun baru hijriah ini bukan sekadar simbol pergantian, tetapi juga titik balik. Kita tata niat, kita luruskan langkah, kita niatkan hidup ini sebagai pengabdian. Kepada Tuhan, kepada sesama, dan kepada bumi yang kita pijak.
Malam ini, biarlah tangis kecil menjadi saksi bahwa masih ada ruang tobat dalam dada. Biarlah kesunyian menjadi teman saat kita merajut doa dan harap: semoga tahun ini lebih baik, lebih berkah, lebih bermakna.
Selamat Tahun Baru Islam 1447 Hijriah.
Semoga kita semua diberi kekuatan untuk berhijrah — bukan hanya secara lahir, tapi juga secara batin. ( Redaktur)
Editor : RedakturSumber : Redaksi