InvestigasiMabes.com | Banyuwangi – Agro Wisata Tamansuruh (AWT) yang berlokasi di Dusun Krajan, Desa Taman Suruh, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, kembali menjadi sorotan. Destinasi yang dikabarkan menelan anggaran pembangunan hingga puluhan miliar rupiah itu kini justru tampak sunyi, mangkrak, dan tidak terawat.
Pantauan lapangan InvestigasiMabes.com pada Kamis (8/1/2026) menunjukkan, kawasan wisata tersebut nyaris tanpa aktivitas. Bangunan utama masih berdiri megah, namun tidak diimbangi dengan operasional yang berjalan. Area sekitar tampak kosong, minim pengunjung, serta tidak menunjukkan fungsi sebagaimana tujuan awal pembangunan.
Kondisi ini memunculkan ironi serius. AWT yang semula diproyeksikan sebagai ikon agrowisata dan pengungkit ekonomi masyarakat desa, kini justru lebih menyerupai aset terbengkalai. Sejumlah warga sekitar bahkan menyebutnya “bak rumah hantu” karena bangunan ada, namun kehidupan wisata nyaris tidak terlihat.
Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar terkait tata kelola proyek:
Bagaimana perencanaan dan konsep keberlanjutan Agro Wisata Taman Suruh sejak awal?
Siapa penanggung jawab pengelolaan dan pemeliharaan aset daerah ini?
Mengapa proyek bernilai besar tidak mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat?Jika benar anggaran puluhan miliar telah digelontorkan, maka kondisi terbengkalai ini patut diduga sebagai bentuk ketidakefektifan pengelolaan, bahkan berpotensi mengarah pada pemborosan keuangan publik. Aset daerah seharusnya dikelola secara profesional, transparan, dan berkelanjutan, bukan dibiarkan kehilangan fungsi.
InvestigasiMabes.com menilai, pemerintah daerah dan instansi terkait wajib memberikan penjelasan terbuka kepada publik, termasuk soal realisasi anggaran, skema pengelolaan, serta langkah konkret penyelamatan aset Agro Wisata Tamansuruh agar tidak terus menjadi proyek mangkrak.
Uang rakyat bukan untuk membangun monumen kegagalan perencanaan. Transparansi dan akuntabilitas adalah keharusan.
Editor : RedakturSumber : Team