"Kalaulah ada anggota PW_FRN menjadi 'ular-ular' seperti dalam ayat tersebut (Surat Thaha ayat 17-23), tujuannya hanya untuk, membasmi kezaliman, kemaksiatan dan kemungkaran," kata Agus Flores.
Berikutnya, Agus Flores mengatakan, FRN boleh menempati jabatan-jabatan strategis di publik. Seperti menjadi anggota legislatif, bupati, gubernur, atau mengisi jabatan publik apapun yang mampu menjadi kekuatan (ashabul qarar sekaligus ashabul haq). Tapi dengan catatan, ini sebatas untuk mengajak kebaikan, meratakan kesejahteraan dan keadilan, bukan sebagai tujuan.
Artinya, ketika sudah dianggap cukup dan diminta Agus Flores untuk kembali lebih aktif dan loyal di FRN, lanjut Agus Flores, seluruh anggota tersebut harus patuh dan tunduk, sebagaimana Bung Karno mengangkat tongkatnya, untuk menundukkan Dunia.
"Itulah sistem komando. Dan sikap pusaka kebanggaan FRN adalah sami’na wa atha’na (kami tunduk dan patuh), sehingga supremasi Syuriyah mutlak," tegas Agus Flores
Selanjutnya, Agus Flores mengatakan, jika ada problem (musykilat) dalam tubuh FRN, seperti perbedaan persepsi dalam menjalankan perkhidmatan dan mengalami deadlock maka kaidahnya adalah 'fain tanazaitum fi syai'in fa rudduhu ila AD/ART Fast Respon Nusantara' (jika terjadi konflik atas sesuatu, maka solusinya adalah kembali kepada AD/ART FRN)."Maka, FRN hadir sebagai Garda Terdepan Bangsa dan Negara dan selalu menjaga marwah nama baik Polri," pungkasnya.
Editor : Investigasi Mabes