Investigasimabes.com l Pekanbaru -- Wilson Lumban Tobing, Ayah alm Prada Josua, yang meninggal di Gudang-1 Logistik Yonif 132/BS setelah memberikan keterangan di Denpom 1/3 Pekanbaru saat jedah Ashar mengungkapkan perasaannya bahwa untuk memperjuangkan keadilan ini memang serasa Menerjang Badai.Kami dalam memperjuangkan keadilan ini memang Berat dan Mahal, kami ini korban dan meminta keadilan namun, dalam memberikan keterangan di Denpom 1/3 Pekanbaru inipun kita seakan disudutkan, dan dijebak untuk memvonis seseorang, padahal itu tugas penyidik untuk menentukan dan mencari bukti dan fakta yang sesungguhnya dibalik tewasnya anak kami Prada Josua.
Kami sudah jauh-jauh dari Peranap sana, Capek, Lelah, Letih dan berharap menemukan keadilan, namun apa yang kami harapkan hanya sia-sia belaka, dan kami sepertinya tidak akan mendapatkan keadilan dari Denpom 1/3 Pekanbaru ini, karena saat pemeriksaan tadi, kami meminta untuk dilakukan otopsi saja, penyidik dari POM alasannya macam-macam, dan kami memang kecewa. Harapan kami, Komnas HAM, Komisi III DPR RI, Panglima TNI, KASAD dan Presiden terpilih nantinya Prabowo Subianto untuk bisa untuk membantu menyelesaikan masalah yang kami hadapi ini, agar menjadi terang-benderang.Sementara Juli Sihombing Pacar Almarhum Prada Josua yang juga ikut memberikan keterangan di Denpom 1/3 Pekanbaru, menegaskan bahwa Kematian Prada Josua Bunuh Diri karena putus cinta itu tidak benar, hubungannya dengan Almarhum Prada Josua baik baik saja. Bahkan, kata Juli, pada malam naas tersebut dirinya masih berkomunikasi dengan Almarhum, namun hingga kematian Almarhum Prada Josua masih komunikasi, namun HPnya diduga dipegang oleh orang lain.
“Malam kematiannya itu, saya masih komunikasi namun itu bukan dia lagi, tapi orang lain saya tahu dari chatnya, seperti dia manggil saya kakak padahal biasa memanggil sayang dan video call ngak ada kelihatan wajahnya, ” beber Juli Sihombing Pacar Almarhum Prada Josua.Sementara itu, Ayah Almarhum Prada Josua, Wilson Lumban Tobing berharap kepada Panglima TNI dan Kepada Staff Angkatan Darat agar dapat mengungkap kebenaran penyebab kematian putranya Almarhum Prada Josua.
“Saya meminta keadilan, kepada Panglima TNI dan Kasad diharapkan membongkar perkara ini, kami dari pihak keluarga berharap TNI membentuk Tim Pencari Fakta atas kematian anak saya Prada Josua, kami meyakini anak kami ini tidak mati bunuh diri, dan juga meminta agar dilakukan otopsi “terang Wilson berlinang air mata.“Saya meminta dan memohon kepada Presiden untuk memberi keadilan dengan memberikan perhatian terhadap permasalahan almarhum anak saya ini, Presiden sebagai pimpinan tertinggi di negara ini kami minta agar memerintahkan pihak terkait membongkar siapa saja yang menjadi penyebab meninggalnya anak kami Prada Josua serta menghukum mereka yang terlibat seberat-beratnya, semoga Tuhan Memberkati,”terang Wilson penuh harapan.
Adapun Kronologis kejadian dijelaskan Dr Freddy Simanjuntak, SH,MH Pengacara Senior Terkenal di Riau ini menjelaskan, awal mulanya pada tanggal Kamis 27 Juni 2024, Prada Josua meminta izin kepada atasannya Batalyon Infanteri 132 Salo dengan alasan bahwa opungnya telah meninggal dunia di Duri.“Ternyata setelah ditelusuri bahwa bukan opung Prada Josua yang meninggal, melainkan opung dari kekasihnya Juli Sihombing, ini membuktikan kecintaan dia kepada kekasihnya, diketahui Prada Josua telah berbohong, dia melakukan itu agar diberi izin,” terang Dr. Dr Freddy Simanjuntak SH, MH.
Kemudian, lanjut Dr Freddy, sesampainya di Pekanbaru Prada Josua dan kekasihnya Juli Br Sihombing langsung berangkat ke Kota Duri pada tanggal 27 Juni itu juga dengan menggunakan sepeda motor Beat milik kekasihnya itu.“Pada tanggal 27 Juni mereka berangkat ke Duri sampai dengan tanggal 28 Juni, Sabtu 29 Juni mereka berduapun pulang ke Pekanbaru, mereka pun tidak masalah apa-apa, “ujar Dr Freddy.“Malam itu, mereka sempat makan malam, kemudian pada pukul 20.00 Wib dia minta diantarkan pulang ke barak dengan kekasihnya,” Imbuh Dr Freddy.Selanjutnya, terang Freddy, Almarhum Prada Josua setelah sampai di Barak Batalyon Infanteri 132 Salo. meminta kembali di jemput kepada kekasihnya dengan alasan dapat Izin Bermalam (IB). Mereka kembali ke Pekanbaru dengan dijemput oleh kekasihnya Juli Sihombing.
_“Kemudian pada pukul 20.00 WIB masuk chat Whatsapp Oknum TNI dengan berbunyi cepat kau pulang, hari ini segera kau pulang, kalau kau sampai di Barak saya sudah tertidur banguni saya, gara-gara kau saya jadi dinas, menggantikan posisimu bertugas, lalu disarankan Kekasihnya untuk abang segera berangkat, ”papar Dr Freddy._Tidak hanya itu, kata Dr Freddy, Prada Josua sempat menunjukkan dan membacakan pesan singkat tersebut kepada kekasihnya Juli Sihombing.
“Prada Josua waktu itu mengatakan, kalau ini sudah susah saya ini, biasanya kalau seperti ini saya akan disiksa, saya akan diberi imbalan karena saya berbohong, dan Prada Josua mengatakan tetap harus kembali ke Barak, dan dia pulang kebarak menggunakan sepada motor milik Juli Br Sihombing, setelah sampai Prada Josua sempat chatingan dengan kekasihnya, ”terang Dr Freddy.Kemudian, lanjut Dr Freddy, pada hari Minggu 30 Juni 2024 pagi sempat ada kontak antara Prada Josua dan kedua orang tuanya.
“Alamarhum sempat bertanya apakah mamak dan bapak sudah siap mau pergi ke gereja sudah mandi ? Josua sudah siap-siap juga mau ke Gereja ini.Ada beberapa kejanggalan dari beberapa bukti yang telah di sampaikan Kuasa Hukum keluarga Prada Josua Dr Freddy Simanjuntak SH, MH dalam Konferensi Pers saat itu, Kamis (12/09/2024). Pertama, terang Dr Freddy HP Almarhum Prada Josua diduga digunakan orang lain dan sampai saat ini tidak juga dikembalikan ke pihak keluarga.
Editor : Investigasi Mabes