3. Keluhan fisik
Pada sering kesempatan, laki-laki menyampaikan perasaan depresi mereka melalui gejala-gejala tubuh seperti sakit kepala, rasa tidak enak di punggong, gangguan pada sistem pencernaan, serta hambatan-hambatan seksual, hal ini bisa jadi dilihat oleh mereka sebagai sekadar persoalan kesejahteraan umum.
4. Menghindari interaksi sosial
Banyak laki-laki yang merasakan depresi cenderung memutus kontak dengan orang-orang terdekat seperti keluarga dan saudara, menghabiskan ekstra waktu seorang diri, atau malah menyibukkan diri secara berlebihan dengan tugas kerja.
5. Pengurangan semangat dan ketertarikan untuk hidup
Kurangnya ketertarikan pada kesenian, profesi, serta aktivitas intim dapat menandakan adanya depresi pada individu tersebut.
Depresi Pria Sering Diabaikan
Berdasarkan studi, kemungkinan terkena depresi selama seumur hidup pada laki-laki adalah 12%, namun mereka cenderung kurang sering meminta pertolongan profesional daripada perempuan. Faktor dominannya adalah stigma yang masih bertahan bahwa pengakuannya menderita masalah kesehatan jiwa merupakan indikasi dari ketidakmampuan diri.
Sebagai akibatnya, banyak laki-laki mencoba mengatasi depresi melalui metode-metode yang kurang baik, misalnya dengan bekerja secara ekstrem keras, menjauhi pergaulan sosial, atau justru meresahkan penggunaan bahan-bahan candu. Sebagian lelaki lain turut serta melakukan aktivitas-aktivitas berbahaya sebagai sarana penyaluran emosi, hal ini malah bisa membuat situasinya menjadi lebih buruk.
Lebih cemas lagi, jumlah kasus bunuh diri pada laki-laki jauh melebihi perempuan. Data menyatakan bahwa laki-laki berisiko melakukan tindakan bunuh diri sampai empat kali lebih besar daripada perempuan. Ini sangat berkaitan dengan perilaku kaum adam yang jarang mencari pertolongan serta lebih suka mengatasi persoalan mereka secara mandiri tanpa adanya dukungan emosi maupun profesi.
Editor : Investigasi Mabes