Riset Unveils: Karyawan Jadi Penghalang bagi Pedagang Online Menggunakan AI Untuk Meningkatkan Penjualan

Foto Investigasi Mabes
Riset Unveils: Karyawan Jadi Penghalang bagi Pedagang Online Menggunakan AI Untuk Meningkatkan Penjualan
Riset Unveils: Karyawan Jadi Penghalang bagi Pedagang Online Menggunakan AI Untuk Meningkatkan Penjualan

Mayoritas atau 93% pedagang online yang di survei di wilayah Asia Tenggara Lazada Dan Kantar berencana mengimplementasikan teknologi kecerdasan buatan atau AI guna meningkatkan hasil penjualannya. Namun, para pekerjanya justru menjadi tantangan utamanya.

Lazada bersama dengan Kantar telah melaksanakan sebuah studi pada 1.214 pemilik usaha daring yang ada di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, serta Vietnam tentang penerapan kecerdasan buatan atau AI. Menurut laporannya yang bertajuk 'Mengejar Kesenjangan AI: Pandangan dan Trend Penerimaan Pedagang Daring di Wilayah Asia Tenggara', delapan puluh lima dari setiap seratus responden (68%) menyatakan bahwa mereka memahami konsep AI.

Para pedagang daring mengalami tantangan tentang kegunaan dan tarif menggunakan teknologi AI. Dari jumlah responden yang disurvei, sebesar 89% setuju bahwa AI dapat menaikkan produktivitas, tetapi 61% lainnya kurang yakin dengan seluruh manfaatnya.

Mayoritas pedagang, sekitar 93%, yakin bahwa implementasi kecerdasan buatan (AI) bisa menekan biaya di masa depan, tetapi mereka juga berurusan dengan hambatan seperti:

  • 64% mengatakan bahwa aspek biaya serta tahap penerapan yang membutuhkan banyak waktu menjadi alasan utama mereka.
  • 93% berpendapat bahwa peningkatan kemampuan tenaga kerja dalam mengaplikasikan kecerdasan buatan (AI) sangat diperlukan untuk mencapai tingkat produktivitas yang lebih baik.
  • 75% menyatakan bahwa staf mereka lebih cenderung memanfaatkan perangkat yang telah dikenali daripada solusi kecerdasan buatan (AI).

Studi oleh Lazada dan Kantar tersebut mengkategorikan penjual daring yang menggunakan kecerdasan buatan menjadi tiga kelompok, yaitu:

  1. Spesialis AI: Mereka sudah mengimplementasikan teknologi AI dalam sebagian besar proses bisnis dengan persentase mencapai lebih dari 80%. (Di Asia Tenggara: 24%, Di Indonesia: 29%)
  2. Kandidat AI: Pedagang yang sudah menerapkan kecerdasan buatan (AI) dalam skala tertentu namun tetap mempertahankan penggunaannya pada berbagai fungsi intinya. (Asia Tenggara: 50%, Indonesia: 50%)
  3. Agnostik AI: Kelompok pedagang yang tetap menggunakan metode Manual dalam banyak aspek operasional bisnis mereka. (Asia Tenggara: 26%, Indonesia: 21%)

Studi tersebut mengungkapkan bahwa Thailand mendominasi dalam kategori AI Adepts dengan 30%, disusul oleh Singapura (29%) dan Indonesia (29%), sementara Vietnam berada di posisi keempat dengan 22%. Meski demikian, masih ada jurang dalam hal pemahaman mereka tentang teknologi ini.

Sementara itu, Malaysia (15%) dan Filipina (19%) menghadapi tantangan keterbatasan infrastruktur dan dukungan internal.

Sebagian besar pedagang di ASEAN (76%) serta sejumlah besar pedagang di Indonesia (71%) termasuk ke dalam kelompok AI Aspirants dan AI Agnostics. Informasi tersebut mengindikasikan pentingnya adanya solusi artificial intelligence yang handal, terlebih lagi dari segi fitur-fiturnya (42%) dan bantuan bagi para penjual (41%).

Di Indonesia, upaya peningkatan dukungan terhadap peran bisnis sektor-sektor dengan penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang masih rendah—seperti bidang operasi dan logistik—harus dilakukan agar negara dapat tetap menjaga posisinya sebagai pemimpin dalam penerapan AI di kawasan ASEAN.

"Kami bertujuan untuk menghubungkan celah tersebut dengan memberikan solusi kecerdasan buatan yang mudah dijangkau oleh semua pedagang di seantero ASEAN," ungkap CEO Grup Lazada James Dong pada pernyataan resmi, Kamis (10/4).

Editor : Investigasi Mabes
Tag:
Bagikan


Berita Terkait
Terkini