Ia menyebut konsep “Sabuk Kamtibmas” bukan sekadar simbol, melainkan representasi nyata dari perlindungan kolektif antara polisi dan masyarakat. Dalam praktiknya, warga diharapkan aktif memberikan informasi, mengawasi lingkungan sekitar, serta membantu menjaga ketertiban dengan pendekatan persuasif.
Apel tersebut juga menonjolkan penggunaan kentongan sebagai simbol kearifan lokal. Selain mudah digunakan, kentongan dinilai memiliki nilai historis yang dekat dengan kehidupan masyarakat sebagai alat komunikasi tradisional dalam situasi darurat.
“Ini adalah bentuk kearifan lokal yang sudah ada sejak dulu. Kita hidupkan kembali sebagai bagian dari sistem keamanan modern berbasis masyarakat,” kata Toni.
Dalam arahannya, Kapolres juga menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam menjaga ketertiban. Warga diminta mengedepankan sikap ramah dan kekeluargaan agar tidak memicu konflik di lapangan.Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga kekompakan antarwarga serta keselamatan pribadi saat menjalankan peran dalam Sabuk Kamtibmas.
Editor : RedakturSumber : Team