Sudah Ratusan Tahun Tradisi Lomban Prosesi Larungan Kepala Kerbau Setiap Bulan Syawal di Jepara

Foto Investigasi Mabes
Sudah Ratusan Tahun Tradisi Lomban Prosesi Larungan Kepala Kerbau Setiap Bulan Syawal di Jepara
Sudah Ratusan Tahun Tradisi Lomban Prosesi Larungan Kepala Kerbau Setiap Bulan Syawal di Jepara

InvestigasiMabes.com | Jepara -  Sudah ratusan tahun tradisi lomban prosesi larungan kepala Kerbau setiap Bulan Syawal di Jepara.Warga berebut sesaji saat mengikuti prosesi Pesta Lomban di laut Jepara, Jawa Tengah, Senin 7 April 2025. 

Pesta Lomban yang diadakan nelayan sepekan setelah Idul Fitri dengan melarung sesaji berupa kepala kerbau serta hasil bumi ke tengah laut itu sebagai bentuk syukur dan harapan para nelayan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki dan keselamatan saat melaut. 

Setiap bulan Syawal, masyarakat di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng), akan dimeriahkan dengan aneka tradisi syawalan. Inilah asal usul Pesta Lomban, sebuah tradisi budaya di Jepara yang digelar sebagai bentuk rasa syukur masyarakat setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh atau Syawalan. 

Sebagian masyarakat Jepara disebutkan dari kata “lomba-lomba” yang berarti masyarakat nelayan masa itu bersenang-senang melaksanakan lomba-lomba laut yang seperti sekarang masih dilaksanakan setiap pesta Lomban, namun ada sebagian mengatakan bahwa kata-kata lomban berasal dari kata “lelumban” atau bersenang-senang. Pesta Lomban merupakan pesta masyarakat nelayan di wilayah Kabupaten Jepara dalam bentuk sedekah laut. 

Namun kini sudah menjadi milik keseluruhan masyarakat Jepara, bukan nelayan saja. Semuanya mempunyai makna yang sama yaitu merayakan hari raya dengan bersenang-senang setelah berpuasa Ramadhan sebulan penuh. Yang pasti, bada lomban merupakan momen bagi para nelayan untuk bersenang-senang dalam merayakan Idul Fitri setelah menunaikan puasa sebulan penuh. 

Pesta lomban itu sendiri telah berlangsung lebih dari satu abad yang lampau. Berita ini bersumber dari tulisan tentang lomban yang dimuat dalam Kalawarti/Majalah berbahasa Melayu bernama Slompret Melayu yang terbit di Semarang pada paruh kedua abad XIX edisi tanggal 12 dan 17 Agustus 1893 yang menceritakan keadaan lomban pada waktu itu, dan ternyata tidak berbeda dengan apa yang dilaksanakan masyarakat sekarang. 

Pesta Lomban masa kini telah dilaksanakan oleh warga masyarakat nelayan Jepara bahkan dalam perkembangannya sudah menjadi milik warga masyarakat Jepara. 

Hal ini nampak partisipasinya yang besar masyarakat Jepara menyambut Pesta Lomban. Dua atau tiga hari sebelum Pesta Lomban berlangsung pasar-pasar di kota Jepara nampak ramai seperti ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri. 

Ibu rumah tangga sibuk mempersiapkan pesta lomban sebagai hari raya kedua. Pedagang bungkusan ketupat dengan janur (bahan pembuat kupat dan lepet) juga menjajakan ayam guna melengkapi lauk pauknya. Malam hari sebelum acara pesta Lomban berlangsung, biasanya diadakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. 

Pada saat pesta Lomban berlangsung semua pasar di Jepara tutup tidak ada pedagang yang berjualan semuanya berbondong-bondong ke Pantai Kartini. Pesta Lomban dimulai sejak pukul 07.00 WIB dimulai dengan upacara Pelepasan Sesaji dari TPI Jobokuto. Upacara ini dipimpin oleh pemuka agama desa Jobokuto dan dihadiri oleh Bapak Bupati Jepara dan para pejabat Kabupaten lainnya. 

Editor : Investigasi Mabes
Tag:
Bagikan


Berita Terkait
Terkini