Opportunitas dan Tantangan bagi Seniman
Karena itu pula, keberhasilan film animasi Jumbo diharapkan dapat memberi peluang pada industri animasi Indonesia agar semakin maju. Hal ini berpotensi menjadikan patokan baru serta sumber motivasi bagi para pemodal dan perusahaan produksi lainnya. Film tersebut mengungkap adanya pangsa pasaran untuk konten animasi bermutu tinggi hasil dalam negeri, sehingga memicu peningkatan dana untuk projek-projek sejenis.
"Artinya, kesempatan pekerjaan bagi animator, desainer visual, serta ilustrator dapat bertambah, khususnya apabila sektor tersebut terus mensupport bakat dalam negeri," ungkap Heru Sutadi dari ICT.
Namun demikian, menurut Heru, ancaman dari AI masih sangat nyata bagi para pekerja di bidang seni. Terdapat ketakutan bahwa baik pemerintah maupun perusahaan mungkin akan cenderung menggunakan teknologi AI demi mencapai efisiensi dan penghematan biaya, hal ini dapat berpotensi mengurangi lapangan kerja untuk animator manusia. Kendati demikian, bahkan animasi otomatis pun memiliki kemampuan untuk mengambil alih sebagian besar tugas-tugas kreatif yang bersifat konvensional tersebut.
Sebagai contoh, pada Pemilu 2024 kemarin, penggunaan teknologi Generative AI cukup marak, bahkan digunakan untuk membuat versi animasi dari pasangan calon presiden dan wakil presiden. Pasangan nomor urut dua, yaitu Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka—yang saat ini telah menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia—menggunakan beragam materi kampanye seperti gambar animasi yang memiliki penampilan agak gemuk atau chubby.
“Akan tetapi, AI haruslah sebagai sarana penopang, bukannya substitusi bagi kecergihan kreatif manusia,” tambahnya.
Masalah lainnya berkaitan dengan kesejahteraan para pekerja di bidang kreatif. Terdapat keprihatinan terkait upah bagi animator-animator Jumbo, karena proyek skala besar ini mempekerjakan ribuan individu dalam kurun waktu lima tahun. Apabila sektor tersebut gagal memberikan pendapatan yang pantas, potensi bakat hebat kemungkinan akan beralih menuju projek bebas ataupun pindah ke industri lain semisal permainan video.
Oleh karena itu, nasib para profesional visual, desainer, serta ilustrator di Indonesia ke depannya sangat tergantung pada kapabilitas mereka dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, menguatkan ekosistem industri lokal, serta meraih dukungan yang lebih optimal dari pihak pemerintahan dan investor.
"Suksesnya Jumbo merupakan titik awal yang menggembirakan, namun tantangan seperti persaingan dengan teknologi AI serta masalah kesejahteraan masih harus dituntaskan agar dapat menjamin pertumbuhan berkelanjutan pada industri animasi Indonesia," ungkapnya.
Editor : Investigasi Mabes