Dewiyana mencurigai bahwa pihak Republik Indonesia mungkin khawatir pembicaraan mereka sudah direkam.
Itu menyebabkan RI menjadi sangat marah dan pada akhirnya dia menyerang Dewiyana dengan kekerasan yang ekstrem.
"Dia menjadi curiga tentang pembicaraan malam tersebut yang telah saya rekam, oleh karena itu dia meminta hp saya dengan paksa walaupun saya jelaskan bahwa hal ini di luar kewenangannya untuk menyelidiki," jelas Dewiyana.
Saat itu tanpa basa-basi, ia langsung berdiri dan memukuli saya dengan keras hingga bibir atasku sobek dan merusak gigiku, sedangkan wajahku menjadi bengkak. Saya terjatuh dalam posisi jongkok. Kemudian dia mulai menerjang seperti meninju seekor binatang, begitulah yang dapat kulukiskan.
Pada saat peristiwa itu terjadi, hanya tersangka dan korbannya saja yang berada di dalam ruangan tersebut.
Beberapa individu lainnya ditempatkan di luar ruang tersebut, seakan-akan mereka sedang menjaga dan memantau.
Dewiyana mencurigai bahwa tindakan kekerasan yang dilancarkan RI terhadap dirinya disebabkan oleh konten pesan RI sebelumnya, di mana dia mengakui pernah menyiksa pacarnya.
"(Takutnya apa)" dia mengirim pesan WhatsApp berisi ancaman ke ponsel saya, lalu ada obrolan di mana dia sepertinya sedang bercerita tentang pengakuannya akan suatu dosa. Dia menjelaskan bagaimana ia memukuli teman saya. Dua minggu sebelum insiden tersebut, ternyata dia sudah pernah memukul wanita lain. Maka dari itu, bisa jadi hal itu yang ingin dia sembunyikan," ungkapnya.
Sebagai akibat dari perlakuannya yang kejam, Dewiyana menderita luka-luka di sekitar bibir, tangannya, dan punggungnya, sementara kaki-kakinya bengkak karena dituduh dipukul oleh RI.
Korbannya telah menginformasikan peristiwa itu kepada aparat penegak hukum dan sudah menyelesaikan proses pemeriksaan medis.
Editor : Investigasi Mabes