InvestigasiMabes.com | Jepara - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Ajeng Kartini Jepara Jawa Tengah Jalan KH. Wahid Hasyim, RW V Bapangan, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah mengalami lonjakan pasien penderita Demam Berdarah Dengue atau DBD yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir ini.
Karena peningkatan pasien DBD yang masuk ke RSUD Raden Ajeng Kartini Jepara, sebagian pasien DBD harus menjalani perawatan sementara di ruang instalasi gawat darurat (IGD) karena ruang perawatan telah penuh.
Dari data RSUD Raden Ajeng Kartini, jumlah pasien DBD yang telah menjalani perawatan mencapai 100 orang. Sedangkan pasien yang masih berada di ruang IGD sebanyak 10 orang. Sebagian besar dari penderita DBD merupakan kalangan usia anak-anak.
Pj Bupati Jepara Edy Supriyanta mengatakan, penyebaran penyakit DBD di Jepara terjadi sejak awal Januari lalu dan hingga akhir Februari ini kian meluas.
"Terhitung sejak awal Januari hingga Februari, penderita DBD di Jepara mencapai 553 pasien. Dimana 70 pasien di antaranya masuk kategori bahaya karena mengalami dengue syok syndrome, karena terjadi komplikasi infeksi DBD yang memiliki resiko kematian yang tinggi," ujar Edy Supriyanta.
Dari 553 penderita DBD tersebut, 12 pasien dinyatakan meninggal dunia. Sebagian besar dari pasien meninggal dunia merupakan kalangan usia anak-anak akibat imunitas tubuh yang lemah.Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Jepara, Eko Cahyo Puspeno mengatakan, telah mengambil langkah penyemprotan fogging di permukiman penduduk tempat ditemukannya penderita DBD. Tindakan fogging ini sebagai antisipasi meluasnya DBD karena mampu membasmi induk nyamuk aedes aegypti dewasa.
Pelaksana harian (Plh) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara Eko Cahyo Puspeno juga menyatakan, sebenarnya status tanggap darurat ditetapkan sejak kemarin, Selasa (27/2/2024). Namun, karena Pj Bupati Jepara sedang berada di luar kota, penandatanganan surat tersebut dilakukan hari ini, Rabu (28/2/2024).
”Saat ini Jepara berstatus tanggap darurat DBD,” ujar Eko.
Lebih lanjut Eko menjelaskan, karena jumlah kasus DBD dari hari ke hari terus meningkat. Itu diperparah dengan banyaknya pasien yang meninggal dunia. Diketahui, sepanjang dua bulan ini, sudah ada 12 orang yang meninggal dunia akibat DBD.
Editor : Investigasi Mabes