Sebagian orang merasa bahwa kehidupan terlalu pendek untuk selalu bersikap hemat secara berlebihan.
Akibatnya, orang yang hidup dalam lingkungan serba konsumsi bisa jadi ragu untuk menerapkan gaya hidup hemat karena khawatir akan ditinggalkan atau dicap sebagai pribadi yang terlalu pelit.
4. Menyamakan Gaya Hidup hemat dengan Kehilangan Relevansinya pada Masa KiniWaktu yang berubah memberikan kesulitan khusus bagi orang-orang yang bermaksud mengadopsi gaya hidup hemat.
Pada zaman serba digital sekarang, godaannya untuk berbelanja menjadi lebih kuat akibat adanya iklan yang selalu bermunculan di dunia maya serta platform-media sosial.
Bahkan, platform belanja daring membolehkan seseorang melakukan pembelian kapan pun cukup dengan beberapa kali ketukan jari.
Di samping itu, fenomena flexing atau menunjukkan kemewahan pada platform-media sosial turut mendorong sebagian besar individu untuk menghabiskan uang demi memiliki benda-benda tertentu yang dapat meningkatkan posisinya dan menjadikannya lebih unggul dimata saudara-saudaranya sendiri.
Sehingga, gaya hidup hemat dilihat sebagai tugas yang menantang untuk dicapai dan bertentangan dengan alur kecenderungan masyarakat.
Sebagian orang meyakini bahwa menjalani gaya hidup hemat saat ini menjadi tantangan akibat kenaikan biaya kehidupan yang tak henti-hentinya.
Biaya untuk produk dan layanan terus meningkat, membuat sebagian orang percaya bahwa upaya mengirit uang mereka tak akan memberi dampak besar.
Ini menyebabkan beberapa individu berpikir bahwa gaya hidup hemat sudah tidak cocok lagi dan sulit dijalankan dalam keseharian mereka.
Editor : Investigasi Mabes