Di sinilah Andreanaldo kian menujukkan kesombongannya. Ia mencoba melaporkan sejumlah wartawan dengan mencari-cari celah pidana, termasuk dugaan pelanggaran ITE terhadap jurnalis.
Tentu sikap seperti ini merupakan bagian dari upaya pembungkaman terhadap kebebasan pers. Dia lupa, jika dia adalah seorang kapolres, pamen di institusi Polri, pejabat publik yang harusnya legowo dan bersikap ksatria mengakui kekhilafan saat kondisi sedang labil; mengingat 2 anggotanya terlibat kasus dugaan intimidasi dan kekerasan, serta kasus dugaan keterlibatan sebagai pemasok narkoba.
Benar saja, yang terjadi malah perlawanan dari awak media semakin massif, dukungan publik dan elemen masyarakat kepada wartawan kian hari terus membesar. Isu ini kian menjadi sorotan, tak menutup kemungkinan akan menasional mengingat upaya pembungkaman yang dilakukan Andreanaldo.
Akibatnya apa? Karir Andreanaldo di ujung tanduk. Dirinya akan dihadapkan dengan kondisi tekanan dari masyarakat luas dan juga indikasi pelanggaran etik oleh Propam yang dihadapinya di internal.Lebih baik Andreanaldo menahan ego sektoralnya dengan legowo meminta maaf secara terbuka, ketimbang menghadapi persoalan yang bisa menghabisi karirnya di kepolisian sebagai calon jenderal. ( Tim )
Editor : RedakturSumber : Team