“Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan tingkat kerusakan serta mendata kebutuhan mendesak warga terdampak. Data tersebut akan menjadi dasar penanganan lanjutan, baik bantuan darurat maupun pemulihan,” ujarnya di lokasi, Sabtu (20/12/2025).
Fakta di lapangan menunjukkan dampak bencana jauh melampaui sekadar angka statistik. Sebanyak empat kepala keluarga terpaksa mengungsi akibat kerusakan atap rumah yang nyaris total. Selain itu, 17 rumah lainnya mengalami kerusakan ringan hingga sedang, serta enam kandang ternak milik warga ikut terdampak, menandakan bahwa bencana ini juga menggerus sumber penghidupan masyarakat.
Perwakilan PMI Lampung Timur, Suradi, menyampaikan keprihatinannya atas musibah tersebut. PMI bersama BPBD menyalurkan bantuan awal berupa paket sembako serta 100 lembar asbes ukuran 2,4 meter untuk mendukung perbaikan darurat rumah warga.
Sementara itu, Ketua FPRB Lampung Timur, Agus, S.Kom, mengingatkan bahwa kejadian ini semestinya menjadi alarm keras, bukan sekadar rutinitas penanganan pascabencana.“Ini bukan hanya musibah sesaat. Lampung Timur jelas masih rawan bencana hidrometeorologi. Jika mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat tidak diperkuat secara serius, kejadian serupa akan terus berulang dan selalu menempatkan warga sebagai korban,” tegasnya.
Editor : RedakturSumber : Team