InvestigasiMabes.com | Banyuwangi -Oleh: Yanto – Anggota LPKMI
Banyuwangi kembali dihadapkan pada persoalan klasik: kelangkaan gas LPG 3 kg atau yang dikenal dengan “gas melon”. Pemerintah daerah merespons dengan langkah cepat melalui operasi pasar murah di berbagai kecamatan. Namun pertanyaannya, apakah kebijakan ini benar-benar solusi, atau justru memperpanjang penderitaan rakyat kecil?
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa operasi pasar memang digelar secara masif. Setiap kecamatan mendapatkan tambahan distribusi ratusan tabung LPG, bahkan di beberapa titik seperti Kecamatan Banyuwangi dan Giri hanya tersedia sekitar 360 tabung per lokasi . Sekilas, ini terlihat sebagai langkah nyata. Namun jika dibandingkan dengan jumlah warga dalam satu kecamatan, angka tersebut jelas tidak sebanding.
Bayangkan satu kecamatan dengan ribuan kepala keluarga, tetapi hanya disuplai 300–500 tabung. Artinya, hanya sebagian kecil warga yang beruntung bisa membeli, sementara sisanya harus pulang dengan tangan kosong. Inilah yang terjadi di lapangan: antrean panjang sejak pagi, harapan tinggi, namun berakhir dengan kekecewaan.
Lebih ironis lagi, fakta menunjukkan bahwa setiap operasi pasar selalu “ludes dalam waktu singkat” . Ini bukan indikator keberhasilan, melainkan bukti bahwa kebutuhan jauh lebih besar daripada pasokan. Antusiasme warga bukan karena programnya efektif, tetapi karena mereka memang terdesak kebutuhan.Dalam beberapa laporan juga disebutkan bahwa warga harus berkeliling selama berhari-hari untuk mendapatkan gas, bahkan terpaksa membeli makanan jadi karena tidak bisa memasak . Ini menunjukkan bahwa masalah utama bukan sekadar distribusi, tetapi ketimpangan suplai secara keseluruhan.
Operasi pasar yang hanya bersifat sementara dan terbatas ini justru menimbulkan efek sosial baru:
Antrean panjang yang tidak manusiawi
Editor : RedakturSumber : Team