Potensi kericuhan akibat rebutan
Kecemburuan sosial antar warga
Dan yang paling menyakitkan: harapan palsu
Kebijakan ini terkesan lebih bersifat “pemadam kebakaran” daripada solusi struktural. Pemerintah seolah hadir, tetapi belum menyentuh akar masalah. Jika distribusi normal di pangkalan berjalan baik dan stok benar-benar mencukupi, maka operasi pasar tidak akan diserbu seperti ini.
Pertanyaannya sederhana: untuk apa membuka pasar murah jika kuota tidak mencukupi?
Alih-alih menjadi solusi, operasi pasar dalam kondisi seperti ini justru memperlihatkan ketidakmampuan sistem dalam menjamin kebutuhan dasar masyarakat. Rakyat kecil kembali menjadi korban, dipaksa antre berjam-jam demi kebutuhan dapur yang seharusnya mudah diakses.Sudah saatnya pemerintah tidak hanya fokus pada pencitraan kebijakan, tetapi berani melakukan evaluasi total terhadap distribusi LPG subsidi. Mulai dari pengawasan pangkalan, penertiban penyelewengan, hingga penambahan kuota yang realistis sesuai kebutuhan riil masyarakat.
Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan rakyat bukan sekadar “operasi pasar”, tetapi kepastian: gas tersedia, harga terjangkau, dan tidak perlu berebut untuk sekadar memasak di rumah sendiri.
Editor : RedakturSumber : Team