Ketika Blok Masela Aman, Para "Pahlawan" Mendadak Bermunculan.

Ketika Blok Masela Aman, Para "Pahlawan" Mendadak Bermunculan.
Ketika Blok Masela Aman, Para "Pahlawan" Mendadak Bermunculan.

InvestigasiMabes.com l Tanimbar - Keberhasilan sebuah Proyek Strategis Berskala Nasional hampir selalu menyisakan satu fenomena yang menarik untuk dicermati dan ketika prosesnya masih dipenuhi tantangan, kritik, dan risiko, hanya sedikit orang yang benar-benar bersedia turun tangan, namun ketika situasi mulai kondusif dan proyek menunjukkan tanda-tanda keberhasilan, tiba-tiba banyak pihak tampil ke depan, bertepuk dada, seolah-olah keberhasilan itu merupakan buah dari perjuangan mereka sendiri.

Selama 27 tahun, Blok Masela menghadapi berbagai dinamika, mulai dari persoalan investasi, pembebasan lahan, koordinasi lintas lembaga, hingga tantangan menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat, semua proses tersebut membutuhkan kerja sama yang panjang antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Aparat Keamanan, Masyarakat Adat, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Investor, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Kini, ketika situasi semakin kondusif dan tahapan proyek mulai berjalan, bermunculan berbagai pihak yang seolah ingin menjadi aktor utama di balik keberhasilan tersebut dan tentuhnya, banyak narasi yang berkembang terkadang memberi kesan bahwa keberhasilan proyek hanya karena jasa satu atau dua orang padahal, realitas di lapangan menunjukkan bahwa keberhasilan sebesar ini tidak mungkin lahir dari kerja individu semata.

Dalam budaya masyarakat Indonesia dikenal pepatah, "AYAM BERTELUR, SAPI YANG MENDAPAT NAMA." Pepatah ini menggambarkan keadaan ketika pihak yang bekerja keras justru tidak memperoleh pengakuan, sementara pihak lain menikmati pujian dan popularitas atas hasil kerja tersebut dan jika dikaitkan dengan Blok Masela, pepatah itu menjadi pengingat bahwa sejarah seharusnya ditulis secara jujur dan mereka yang sejak awal menjaga stabilitas, membangun komunikasi, menyelesaikan berbagai persoalan, dan mengedepankan kepentingan masyarakat patut memperoleh penghargaan yang proporsional bukan sebaliknya, tidak bijak apabila keberhasilan kolektif diklaim sebagai pencapaian pribadi.

Lebih penting lagi, masyarakat Tanimbar tentu berharap perhatian tidak lagi terfokus pada siapa yang paling berjasa, melainkan pada bagaimana manfaat proyek benar-benar dirasakan oleh masyarakat dan ada kesempatan kerja bagi tenaga lokal, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan UMKM, pembangunan infrastruktur, serta perlindungan terhadap lingkungan dan budaya lokal merupakan ukuran keberhasilan yang jauh lebih bermakna dibanding sekadar klaim politik atau pencitraan.

Editor : Investigasi Mabes
Sumber : Tim
Bagikan

Berita Terkait
Terkini