*Konstelasi PILGUB Jawa Timur*
Pelaksanaan PILKADA tahun ini serentak se Indonesia, mulai dari Pemilihan Gubernur (PILGUB) dan Pemilihan Bupati (PILBUP) atau Pemilihan Walikota (PILWALI). Di Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dipastikan akan kembali maju sebagai Calon Gubernur (CAGUB). Dirinya sudah mengantongi empat rekomendasi dari partai yaitu Partai Golongan Karya (GOLKAR), Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA), Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional (PAN).
Keempat partai yang telah memberikan rekomendasi kepada Khofifah akan mempengaruhi koalisi partai di kabupaten atau kota seJawa Timur termasuk Banyuwangi. Memang tidak ada aturan yang mewajibkan jika koalisi di PILGUB harus linier dengan PILBUP dan PILWALI dalam satu provinsi. Tetapi jika koalisi partai politik di provinsi yang mengusung CAGUB-CAWAGUB, tidak sama dengan koalisi di kabupaten atau kota yang mengusung CABUP-CAWABUP atau Calon Walikota dan Wakil Walikota, akan terjadi kerancuan di internal partai pengusung untuk memenangkan pasangan calon yang diusung baik di Provinsi maupun di kabupaten atau kota.
Hal ini yang membuat para ketua partai di kabupaten Banyuwangi masih gamang untuk membangun koalisi antar partai guna menghadapi PILBUP. Hari ini semuanya masih menunggu keputusan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) partainya masing-masing. Jika nantinya keputusan DPP semua partai politik mewajibkan koalisi harus linier dalam satu provinsi, artinya koalisi GOLKAR, GERINDRA dan Demokrat di Banyuwangi sudah terbentuk. Minus PAN yang tidak mendapatkan kursi DPRD.
Jumlah kursi dari ketiga partai tersebut jika digabungkan ada dua puluh. Dan ini cukup untuk mengusung CABUP-CAWABUP untuk ikut berkontestasi dalam PILKADA Banyuwangi. Peluang Ipuk untuk berangkat dari koalisi partai ini terbuka lebar, pasalnya dari ketiga partai tersebut tidak ada tokoh yang memiliki elektabilitas tinggi. Mencuat kepermukaan nama Sumail Abdullah anggota DPR-RI sekaligus Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GERINDRA Banyuwangi. Tetapi dirinya terlihat masih ragu-ragu untuk turun gunung, karena harus siap melepas jabatannya sebagai DPR-RI jika ikut berlaga di PILBUP Banyuwangi.
*Peluang PDI-P dan PKB Berkoalisi*
Jika nantinya Ipuk Fiestiandani kembali mencalonkan Bupati tidak berangkat dari partainya, maka besar kemungkinan jika PDI-P dan PKB akan berkoalisi di Banyuwangi. PDI-P sebagai partai pemenang mendapatkan 213.185 suara dengan perolehan sebelas kursi. Sedangkan PKB sebagai pemenang kedua mendapatkan 167.134 suara dengan perolehan sembilan kursi. Jika keduanya berkoalisi akan menjadi kekuatan besar, jumlah kursi mereka pun juga ada dua puluh jika digabungkan.Dan jika nantinya PDI-P berkoalisi dengan PKB, maka dipastikan yang akan menjadi Calon Bupati berasal dari kader PKB. Sebut saja nama KH. Ahmad Munib Syafaat, dia tokoh PKB yang mempunyai nilai jualnya tinggi untuk dicalonkan sebagai CABUP Banyuwangi. Masih belum ada kader dari PDI-P yang bisa mengimbangi ketokohan pria yang akrab disapa Gus Munib itu. padahal dengan perolehan sebelas kursi membuat PDI-P menjadi satu-satunya partai di Banyuwangi yang bisa mengusung CABUP-CAWABUP sendiri tanpa harus koalisi.
Bagi PDI-P tidak ada pilihan lain, jika nanti Ipuk Fiestiandani memutuskan untuk berseberangan dengan mereka selain berkoalisi dengan PKB. Meskipun harus merelakan kadernya hanya menjadi Calon Wakil Bupati, namun itu merupakan target realistis. Daripada harus memaksakan kadernya menjadi CABUP tetapi tidak memiliki elektabilitas tinggi dan akhirnya ditinggalkan oleh partai lain. Sangatlah berat bagi PDI-P hari ini jika nantinya harus mengusung CABUP-CAWABUP sendiri tanpa koalisi dengan partai lain.
Apabila hal itu yang terjadi, maka ada empat kader PDI-P yang bisa dipasangkan dengan Gus Munib. ada Sugirah Wakil Bupati saat ini, Hermanto anggota DPRD Provinsi Jawa Timur 2019-2024, Ficky Septalinda Ketua Komisi IV DPRD Banyuwangi dan Indah Yeni Ketua PA GMNI 2017-2022 yang merupakan Istri dari I Made Cahyana Negara Ketua DPRD sekaligus Ketua DPC PDI-P Banyuwangi. Tinggal nantinya nama-nama tersebut disetujui atau tidak oleh DPP partai besutan Megawati Soekarnoputri.
Editor : Investigasi Mabes