Jika memungkinkan dan situasi memungkinkan, komunikasi sederhana dengan masyarakat dapat dibangun melalui sapaan dan sikap ramah.
“Bukan sekadar agar masyarakat tahu siapa yang berada di dalam kendaraan, tetapi juga supaya ada ruang untuk saling menyapa. Masyarakat bisa menyapa dan menghormati pejabat yang lewat, begitu juga pejabat dapat membalas dengan sapaan atau senyuman,” kata Roni.
Hal tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, di tengah kesan bahwa sebagian pejabat semakin jauh dari masyarakat, sebuah sapaan dan senyuman justru dapat menjadi simbol bahwa pemerintah masih hadir dan tidak berjarak dengan rakyatnya.
Permintaan maaf pengemudi BA 8816 H akhirnya menjadi jalan untuk meredakan ketegangan. Tetapi peristiwa ini menyisakan catatan penting: jangan sampai masalah baru mendapat perhatian setelah viral dan diberitakan media.
Sosial kontrol tidak seharusnya menjadi momok yang baru ditakuti ketika sorotan publik telah membesar. Kritik masyarakat mestinya dipandang sebagai peringatan dini untuk memperbaiki pelayanan dan perilaku aparatur.
Kasus BA 8816 H menjadi pelajaran bahwa ketika masyarakat bersuara, media menjalankan fungsi kontrol, dan pihak yang dikritik memiliki keberanian untuk datang serta meminta maaf, persoalan dapat diselesaikan secara bermartabat.Namun publik tentu berharap lebih dari sekadar kata maaf.
Yang ditunggu adalah perubahan.
Sebab kendaraan pemerintah membawa nama negara, uang rakyat, dan wibawa institusi. Maka siapa pun yang berada di balik kemudinya harus memahami satu hal sederhana: pelat merah bukan lambang kekuasaan di jalan raya, melainkan amanah untuk memberi contoh kepada masyarakat. (Red).
Editor : Investigasi MabesSumber : Tim