Bahaya "microsleep" saat berkendara

Foto Investigasi Mabes
Bahaya "microsleep" saat berkendara
Bahaya "microsleep" saat berkendara

 Staf medik fungsional divisi neurofisiologi, epilepsi, dan gangguan tidur Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Kariadi Semarang, Herlina Suryawati, dalam seminar awam ”Hari Tidur Sedunia 2024” pada akhir Maret 2024 mengatakan, kecelakaan yang terjadi dengan melibatkan kondisi microsleep sering kali dilaporkan lebih parah dibandingkan dengan kondisi sopir tanpa mengalami microsleep. Itu karena sopir yang tertidur tidak mampu melakukan tindakan pencegahan atau pengurangan dampak sebelum kecelakaan, seperti mengerem ataupun menghindar.

 Ia menuturkan, saat terjadi microsleep, aktivitas pada otak terganggu sehingga mengurangi kesadaran terhadap lingkungan. Kondisi microsleep pada pengemudi bisa berakibat fatal. Ini bahkan bisa terjadi juga pada pilot, seperti yang sempat diberitakan beberapa waktu lalu. Pilot yang kelelahan akhirnya tertidur sehingga menyebabkan pesawat terbang melintang keluar dari jalur yang semestinya.

 Dari berbagai analisis yang dilakukan, Herlina menuturkan, kecelakaan lalu lintas akibat pengemudi yang kelelahan lebih banyak dilaporkan pada dini hari dan sore hari. Pada waktu tersebut, orang secara alami cenderung lebih mudah merasa mengantuk.

 ”Rata-rata microsleep muncul saat pengemudi berkendara di jalan raya setelah 52 menit berkendara tanpa istirahat. Selain itu, tingkat kewaspadaan biasanya akan memasuki jam kritis setelah mengemudi hampir tiga jam atau mengemudi lama dalam kondisi macet,” tutur Herlina.

 Tanda ”microsleep”

Pengemudi dan penumpang harus mawas ketika tanda microsleep mulai terlihat dari pengemudi. Kondisi microsleep bisa ditandai dengan kelopak mata yang terasa sangat berat, mata berkedip berkali-kali dan cepat, menguap terus-menerus, arah kemudi yang tanpa disadari keluar dari jalur, serta tiba-tiba kaget atau terbangun akibat entakan tubuh dan kepala. 

Rata-rata ’microsleep’ muncul saat pengemudi berkendara di jalan raya setelah 52 menit berkendara tanpa istirahat. Selain itu, tingkat kewaspadaan biasanya akan memasuki jam kritis setelah mengemudi hampir tiga jam atau mengemudi lama dalam kondisi macet. 

Kondisi ini juga bisa ditandai dengan pengemudi yang tidak menyadari apa yang baru terjadi, padahal tidak dalam kondisi melamun. Saat diajak berkomunikasi, orang yang mengalami gejala microsleep biasanya tiba-tiba sulit memproses informasi dan kebingungan.Apabila tanda-tanda tersebut mulai muncul, sebaiknya segera lakukan pencegahan sebelum dampak yang buruk terjadi. Hal yang paling efektif untuk dilakukan ialah menepi dan berhenti mengemudi.

 Gejala microsleep yang dipaparkan oleh staf medik fungsional divisi neurofisiologi, epilepsi, dan gangguan tidur RS Umum Pusat dr Kariadi Semarang, Herlina Suryawati, dalam seminar awam ”Hari Tidur Sedunia 2024” pada akhir Maret 2024.

PERDOSSIGejala microsleep yang dipaparkan oleh staf medik fungsional divisi neurofisiologi, epilepsi, dan gangguan tidur RS Umum Pusat dr Kariadi Semarang, Herlina Suryawati, dalam seminar awam ”Hari Tidur Sedunia 2024” pada akhir Maret 2024.

Editor : Investigasi Mabes
Tag:
Bagikan


Berita Terkait
Terkini