"Kritik saya boleh, bahkan keras sekalipun. Tapi jangan sampai kita mengorbankan rasa aman dan tertib di bumi Duan Lolat ini. Beta mau Tanimbar tetap damai dan beradab,"pungkasnya.
Jauwerissa mengakui bahwa insiden aksi P3K paruh waktu menjadi pengalaman penting di awal masa kepemimpinannya. Ia menyebut peristiwa itu sebagai pengingat bahwa kekuasaan harus selalu berpijak pada rasa kemanusiaan dan keadilan.
"Kepemimpinan bukan soal siapa yang berkuasa, tapi bagaimana kita melayani dengan hati, sekaligus menegakkan aturan dengan tegas. Beta belajar dari semua ini,"tutupnya.(Red-IM 178)
Editor : RedakturSumber : Team