Teknologi ini juga dirancang aman. Ketinggian terbang dan volume semprotan dapat disesuaikan dengan umur serta kondisi tanaman, sehingga tidak merusak batang maupun perakaran.
Sementara itu, manajemen Unit Jasa Pelayanan (UPJA) Alsintan Kabupaten Rembang, Suheriyanto Andri Wahyudi, menuturkan drone pertanian mulai digunakan di Dintanpan sejak 2025.
Sebelum diterjunkan ke sawah, calon pilot drone wajib mengikuti pelatihan khusus. Setelah dinyatakan lulus, mereka baru diperbolehkan mengoperasikan drone untuk membantu petani mengatasi serangan hama.
Tarif sewa layanan drone saat ini sebesar Rp 200 ribu per hektare. Namun terdapat tambahan biaya BBM untuk transportasi karena pengangkutan drone dan perlengkapannya menggunakan kendaraan roda tiga atau Viar.
Dari tujuh unit yang dimiliki, empat di antaranya merupakan drone merek Ferto yang diterima melalui program Petani Milenial. Drone tersebut memiliki kapasitas tangki 17 liter untuk cairan pestisida dan mampu membawa pupuk hingga 10 kilogram.
“Permintaan layanan drone cukup tinggi, terutama bagi petani yang mengelola lahan lebih dari satu hektare. Penyemprotan menggunakan drone sangat membantu, khususnya pada fase padi bunting tua.”Pada Februari ini, mayoritas tanaman padi MT-1 di Rembang mulai memasuki fase keluar malai. Penyemprotan difokuskan pada pemberian nutrisi seperti MKP dan KCL cair, serta fungisida dan pestisida untuk mengendalikan hama belalang dan ulat.
Optimalisasi drone pertanian ini menjadi bagian dari transformasi pertanian berbasis teknologi di Kabupaten Rembang. Dengan sistem kerja yang lebih cepat, presisi, dan efisien, diharapkan produksi padi pada Musim Tanam Pertama 2026 dapat meningkat serta kesejahteraan petani semakin membaik.
Editor : RedakturSumber : Team