Kritik ini bukan berarti menutup ruang partisipasi rohaniawan dalam kehidupan berbangsa. Justru sebaliknya, suara moral tetap dibutuhkan sebagai penyeimbang. Namun, ketika masuk ke ranah teknokrasi pemerintahan, mereka seharusnya sadar batasan peran: menyuarakan etika, bukan menggantikan analisis para ahli.
Jika hal ini terus dibiarkan, publik akan semakin terbiasa mengonsumsi tafsir instan yang tidak teruji, yang pada akhirnya menyesatkan arah demokrasi. Masyarakat perlu kritis: jangan mudah terbuai oleh karisma, tapi tanyakan selalu: “Apakah pendapat ini memiliki dasar ilmiah, atau sekadar ilusi
popularitas?” Editor : RedakturSumber : Anoninous