InvestigasiMabes.com – Banyuwangi. Persoalan alih fungsi lahan di kawasan PT Perkebunan Kalibendo kembali menjadi perhatian serius setelah warga Dusun Kopencungking, Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, mengeluhkan terhentinya aliran air bersih dari keran rumah selama berhari-hari.
Persoalan ini tidak bisa lagi dipandang sebagai gangguan pelayanan air bersih biasa. Di tengah keluhan masyarakat yang membutuhkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, muncul dugaan persoalan perubahan fungsi lahan perkebunan yang selama ini menjadi perhatian dalam rangkaian pemberitaan InvestigasiMabes.com.
Tokoh masyarakat Desa Kampunganyar menilai persoalan tersebut harus ditindaklanjuti secara serius. Berdasarkan temuan lapangan yang disampaikan, terdapat aktivitas pembabatan tanaman bambu, cengkeh, karet, dan kopi di kawasan perkebunan yang dipersoalkan. Aktivitas tersebut memunculkan pertanyaan mendasar mengenai legalitas alih fungsi lahan, pengawasan pemerintah, serta perlindungan terhadap lingkungan dan sumber air yang dibutuhkan masyarakat.
Jangan Sampai Perubahan Lahan Berjalan, Sementara Warga Kesulitan Air
Pembabatan berbagai jenis tanaman di kawasan perkebunan bukan persoalan sepele apabila dilakukan dalam skala yang memengaruhi tutupan lahan dan tata kelola lingkungan. Masyarakat kini mempertanyakan bagaimana pengawasan terhadap aktivitas tersebut dijalankan, apakah perizinannya telah sesuai ketentuan, serta apakah dampak terhadap sumber air warga sudah menjadi perhatian pihak yang berwenang.
Dugaan tanpa izin dalam kegiatan alih fungsi lahan ini harus menjadi pintu masuk bagi pemeriksaan resmi. Dokumen perizinan, kesesuaian peruntukan lahan, persetujuan lingkungan, serta pelaksanaan kegiatan di lapangan harus diperiksa secara menyeluruh.Di sisi lain, warga Dusun Kopencungking telah merasakan langsung persoalan ketersediaan air bersih. Sebagaimana diberitakan InvestigasiMabes.com sebelumnya, salah satu keluarga mengeluhkan keran rumahnya tidak mengalir selama dua hari dua malam. Kondisi tersebut semakin memprihatinkan karena keluarga itu memiliki bayi berusia satu bulan yang membutuhkan air untuk menjaga kebersihan dan sanitasi.
Kepala Desa Kampunganyar, Suwandi, sebelumnya juga menyampaikan bahwa pelayanan HIPAM belum maksimal dan debit air mengalami penurunan.
Pernyataan tersebut semestinya menjadi perhatian serius bagi instansi terkait. Ketika penurunan debit air telah dikeluhkan masyarakat dan persoalan perubahan tutupan lahan turut mencuat, pengawasan tidak seharusnya berhenti pada penanganan distribusi air semata.
Masyarakat membutuhkan tindakan nyata untuk menjawab persoalan yang mereka hadapi, bukan sekadar penjelasan berulang tanpa kepastian penyelesaian.
Editor : RedakturSumber : Warga