* *Saat MBG Berjalan:* Pemerintah bertindak sebagai "pembeli raksasa". Ribuan dapur MBG harus membeli telur, daging, beras, sayur, susu dan lainnya dalam jumlah yang sangat besar setiap hari. Akibatnya, barang di pasar tersedot untuk program ini dan kemudian barang untuk masyarakat umum secara otomatis berkurang, karena suply berkurang maka harga sembako otomatis naik dan barang – barang tersebut menjadi mahal.
* *Saat MBG Libur:* Ketika dapur MBG berhenti beroperasi, pemerintah setop membeli bahan pangan. Bahan makanan yang tadinya mau dipakai untuk MBG akhirnya dialihkan ke pasar umum. Akibatnya barang untuk masyarakat jadi melimpah, harga sembako pun langsung turun karena suply yang berlebih.
*Coba kita telaah sejenak terkait dengan cara pandang yang digunakan disetiap Gaya Kepemimpinan Pemerintah*
Fenomena naik turunnya harga pangan ini sangat dipengaruhi bagaimana cara pandang (pemahaman) pemimpin dalam mengelola negara:
*1. Kepemimpinan Populis (Ingin Terlihat Cepat Membantu)*
Program MBG lahir dari cara pandang Welfare State (Negara Kesejahteraan), di mana pemimpin ingin memberikan bantuan langsung yang tampak nyata di mata rakyat, yaitu makanan gratis. Gaya kepemimpinan seperti ini biasanya fokus pada hasil cepat dan kepuasan politik jangka pendek.Kelemahannya? Pemerintah sering kali kurang memperhitungkan dampak jangka panjangnya terhadap stabilitas harga di pasar umum. Padahak peningkatan kualitas SDM tidak cukup hanya melalui pemenuhan gizi, tapi Pendidikan yang berkualitas, lingkungan yang baik, dan pembentukan karakter juga menjadi faktor penting.
*2. Kebijakan yang Kurang Matang (Gagap Perencanaan)*
Pemerintah saat ini mencoba mengatur konsumsi makanan rakyat dari pusat (lewat dapur MBG), tetapi di sisi lain tidak mampu mengontrol dan menambah pasokan dari petani atau peternak secara cepat. Akibatnya, kebijakan ini menjadi kontradiktif.