Penolakan ini tak berdiri sendiri. Tim Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo (RKBK) Banyuwangi menyatakan siap mengadvokasi BCM secara total. Ketua RKBK, Hakim Said, SH, menyebut relokasi adalah bentuk pengabaian terhadap ekonomi rakyat.
“Kepentingan ekonomi rakyat harus diberi ruang. Jangan sampai ini bernasib seperti Pasar Sobo yang direvitalisasi jadi TWT dan AWT, lalu mangkrak! Kini rakyat kembali jadi korban,” tegas Hakim Said.
Ia juga mengingatkan, pelapak BCM hanya memanfaatkan area taman selama 4–5 jam di hari Minggu, tanpa merusak fasilitas publik. “Apa sih salahnya rakyat kecil meramaikan taman, memberi kehidupan ekonomi, ketimbang taman kosong dijadikan proyek gagah-gagahan?”
Andi Purnama, pengamat kebijakan publik dan pengurus RKBK, menilai arah kebijakan ini menunjukkan watak tata kota yang makin menjauh dari rakyat. “Revitalisasi yang meminggirkan rakyat adalah pembangunan yang gagal. Kota bukan hanya milik investor dan event. Kota harus menjadi rumah bagi seluruh lapisan warga.”Sementara itu, Herman Sjahthi, tokoh pemuda dan akademisi yang tergabung dalam RKBK, menegaskan, “Ini bukan semata soal tempat jualan. Ini soal hak warga atas ruang hidup. Suara-suara kecil dari pinggir taman itu justru denyut kehidupan kota.”
Editor : RedakturSumber : Team