Di area puncak, atmosfernya cenderung hening—ramai oleh manusia, tetapi tetap terasa “liar” oleh angin, suhu yang cepat berubah, dan bentang alam yang tak berhenti memikat mata.
Keramaian yang meningkat, sayangnya, belum sepenuhnya diimbangi kesiapan fasilitas paling dasar. Di beberapa titik, kebutuhan toilet menjadi persoalan nyata: jumlahnya sangat terbatas bahkan bisa dikatakan nyaris tidak ada, kondisi tidak selalu memadai untuk lonjakan pengunjung pada akhir pekan maupun musim liburan.
Situasi ini bukan sekadar soal ketidaknyamanan; ia berkaitan langsung dengan kebersihan kawasan, martabat pengalaman wisata, serta risiko pencemaran yang dapat merusak ekosistem yang justru menjadi alasan orang datang.
Sudah sepantasnya daerah yang memiliki destinasi wisata memperhatikan fasilitas dasar, karena dampaknya langsung terasa pada kenyamanan pengunjung dan citra pengelolaan kawasan.Ketika kebutuhan elementer seperti BAK dan BAB tak difasilitasi secara layak, beban akhirnya jatuh pada alam dan pada pengunjung itu sendiri—dan pada jangka panjang bisa menggerus minat berkunjung.
Editor : Investigasi MabesSumber : Tim